IQNA

Webinar Filipina:
8:53 - November 29, 2020
Berita ID: 3474819
TEHERAN (IQNA) - Konsuler kebudayaan Iran di Filipina dalam kelanjutan rangkaian pertemuan keagamaan dengan kerja sama dan partisipasi para cendekiawan dan intelektual Iran dan Filipina, menyelenggarakan webinar "Pengaruh dialog dan kerja sama agama di bidang pendidikan agama dalam memelihara nilai-nilai agama dan melawan ekstremisme" dengan bantuan Universitas De La Salle dan hauzah ilmiah Iran.

IQNA melaporkan, webinar ini diselenggarakan dengan partisipasi Hujjatul Islam Prof Dr. Sayyed Mofid Hosseini Kouhsari, profesor universitas dan hauzah dan wakil internasional dari hauzah ilmiah serta dekan fakultas dan beberapa profesor Universitas De La Salle  Filipina dan dengan partisipasi lebih dari 200 profesor, mahasiswa dan pakar agama dari kedua negara dengan aplikasi Zoom dan bersamaan di Facebook dan YouTube dan dimulai di bawah arahan Bay Bado, seorang profesor di Fakultas Teologi Universitas Katolik Santo Tomas Manila.

Bay Bado, moderator pertemuan, pertama-tama menjelaskan pengantar mengapa konselor kebudayaan Iran memprakarsai konferensi ilmiah ini, dan kemudian Morteza Sabouri, konselor budaya Iran di Manila berbicara dan mengatakan: “Pembahasan pendidikan di pelbagai bidang, baik mazhab dan selainnya, sangat penting dalam kehidupan manusia. Menurut ajaran Alquran, penciptaan manusia dimulai dengan ajaran dan pengutusan Nabi Islam (saw) juga dengan membaca dan belajar, dan pada dasarnya salah satu tujuan risalah para nabi Ilahi adalah untuk tarbiah, mendidik masyarakat dan pertumbuhan mereka serta ajakan sadar manusia menuju Allah.”

Sabouri menambahkan: Allah berfirman dalam Alquran tentang pendidikan agama. Dengan bertolak bahwa tidak semua orang dapat meninggalkan pekerjaan mereka dan melanjutkan studi ilmu agama, beberapa orang harus mencurahkan waktunya untuk mempelajari ilmu agama dan kemudian mendedikasikan ilmu-ilmu ini untuk mengajari orang lain. Oleh karena itu, dari sudut pandang Islam, mempelajari dan mengajarkan ilmu-ilmu agama adalah hal yang penting dan kewajiban serta taklif syar’i. Tetapi poin yang sangat penting dan mendasar dalam mempelajari, mengajar dan menyebarkan ilmu-ilmu agama adalah masalah bagaimana mempelajari dan mendakwahkannya.

Beberapa menghina situs-situs suci atas nama kritik

Dia menyatakan: Dalam sejarah agama, kami melihat para ekstremis agama yang hanya memperhatikan lahiriah teks-teks suci dan memberikan hukum berdasarkan hal tersebut, dan akibatnya, melakukan banyak kejahatan atas nama agama. Di sisi lain, kita melihat para intelektual yang atas nama akal dan kebebasan, tidak percaya pada kesucian agama apa pun, dan menganggap semua masalah agama bersifat kritis, dan atas nama kritik, menghina kesucian-kesucian agama, seperti yang terjadi baru-baru ini di Perancis.

Lebih lanjut, Hujjatul Islam Prof Dr. Sayyed Mofid Hosseini Kouhsari, Wakil Internasional hauzah Iran, menyebutkan berbagai teori di bidang dialog antaragama dan berkata: “Teori pertama adalah bahwa kita harus menggabungkan semua agama dan mencapai agama yang tidak memiliki legitimasi berdasarkan akal dan filosofi. Teori lain didasarkan pada kesamaan-kesamaan agama dan percaya bahwa kita hanya bisa mengandalkan persamaan-persamaan agama, dan demikian juga teori pluralisme agama, yang mengakui perbedaan dan persamaan antar agama. Islam dan Kristen memiliki banyak kesamaan dan dari 114 surah Alquran, lebih dari 40 surah telah berbicara tentang Kristen dan dalam beberapa kasus telah menekankan interaksi dengan Ahli Kitab, dan satu surah didedikasikan untuk Maryam, ibu Isa al-Masih.”

Pembicara berikutnya adalah Corpus, seorang profesor teologi di Universitas De La Salle  Manila, yang dengan mengisyaratkan adanya surah Maryam dalam Alquran dan ucapan Alquran tentang Isa al-Masih (as) mengungkapkan, penerimaan kesakralan agama Kristen oleh Alquran dapat menjadi faktor utama dalam mengungkapkan kesamaan kita dengan Muslim, tetapi sayangnya intervensi bias seperti yang terjadi di Perancis telah menciptakan pandangan-pandangan negatif.

Pentingnya mengubah pandangan negatif dalam Islam dan Kristen

Lebih lanjut, Uria Arabit, seorang anggota himpunan guru pendidikan agama Filipina dan seorang profesor di Universitas De La Salle  Manila menjelaskan: “Ada pandangan negatif dari Muslim Filipina yang menggambarkan mereka sebagai orang yang tidak beradab dan pendendam, dan pandangan timbal balik terhadap orang Kristen, menganggap mereka adalah orang-orang yang telah menduduki tanah Muslim, dan pandangan ini harus diubah dengan kerja sama kedua belah pihak.”

“Islam dibawa ke Filipina secara damai melalui pedagang pada abad ke-14 dan ke-15, sedangkan kedatangan agama Kristen pada abad ke-16 disertai dengan penjajahan Spanyol. Gelombang migrasi Kristen ke tanah Mindanao mengubah persentase penduduk Muslim dan Kristen, dan ini menjadi salah satu penyebab ketidakpuasan umat Islam,” tambahnya.

Anggota himpunan guru ini menyerukan adanya fasilitas-fasilitas pendidikan yang sama antara Kristen dan Muslim dan peningkatan komunikasi dan dialog di antara mereka, dan menambahkan bahwa ini akan menjadi faktor dalam mengurangi perbedaan. (hry)

 

3937719

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\