IQNA

Al Jazeera:
15:41 - February 27, 2021
Berita ID: 3475097
TEHERAN (IQNA) - Satu tahun setelah kekerasan terhadap Muslim di Delhi, Muslim Delhi tampak frustrasi dengan implementasi administrasi peradilan dan hukuman para pelaku penyerangan di lingkungan mereka.

Al Jazeera melaporkan, laporan tersebut mengkaji kondisi para korban luka dan yang selamat dari serangan tahun lalu dalam sebuah laporan.

Laporan itu dengan mengisyaratkan korban dari kekerasan tahun lalu, menyebutkan di mana 53 orang yang sebagian besar Muslim tewas. Kekerasan tersebut telah menjadi kerusuhan massal terburuk di India dalam beberapa dekade.

Menurut laporan itu, seorang Muslim berusia 35 tahun bernama Muhammad Nasir Khan, yang kehilangan mata dalam kekerasan tersebut, tidak dapat mencari keadilan karena kurangnya minat polisi dalam kasusnya. Dia menambahkan bahwa penyerangnya belum dihukum.

Bagian lain dari laporan itu, dengan mengisyaratkan ketidakadilan pengadilan India dalam menangani para pelaku kekerasan, menekankan bahwa banyak korban Muslim dari kekerasan berdarah tahun lalu mengatakan mereka telah berulang kali menghadapi penolakan polisi untuk menyelidiki pengaduan terhadap para perusuh Hindu.

Beberapa masih berharap pengadilan akan membantu mereka, sementara yang lain percaya bahwa sistem peradilan sekarang di bawah pemerintahan nasionalis Hindu Perdana Menteri Narendra Modi berdiri melawan mereka. Laporan dari para korban Muslim, serta laporan dari kelompok hak asasi manusia, menunjukkan bahwa para pemimpin Modi, BJP dan Kepolisian New Delhi, memiliki dukungan implisit untuk massa Hindu.

Laporan tersebut menambahkan, polisi New Delhi tahun lalu tidak menanggapi permintaan berulang kali untuk berkomentar, tetapi mereka bersikeras menyatakan bahwa penyelidikan mereka adil dan bahwa sekitar 1.750 orang telah ditangkap sehubungan dengan kerusuhan tersebut, setengah dari mereka adalah Hindu. Namun keluarnya surat yang dikirim ke penyidik ​​oleh seorang petugas polisi senior lima bulan setelah kerusuhan, yang mendesak mereka untuk lebih toleran terhadap umat Hindu yang dicurigai melakukan kekerasan, menuai kecaman dari Mahkamah Agung Delhi.

“Sejak pecahnya subbenua India pada tahun 1947, telah terjadi konflik agama di India. Para pengamat mengatakan, tetapi selama tujuh tahun terakhir, bagian mazhab yang baru diperkuat oleh Partai Nasionalis Hindu telah memperlebar celah dan meningkatkan ketegangan. Banyak yang percaya bahwa kerusuhan tahun lalu dipicu oleh pidato berapi-api oleh anggota BJP Kapil Mishra, yang memberi ultimatum kepada polisi untuk menghentikan protes duduk-duduk terhadap undang-undang kewarganegaraan yang baru, jika tidak, dia dan pendukungnya akan melakukannya sendiri,” kata laporan itu, merujuk pada sejarah panjang konflik tersebut.

Laporan itu menambahkan, ketika pendukungnya pergi ke sana, pertempuran di jalan pecah dan dengan cepat berubah menjadi kerusuhan. Selama tiga hari, preman Hindu memukuli Muslim di jalan dan dalam beberapa kasus, membakar mereka di rumah mereka. Dalam beberapa kasus, lingkungan Muslim, termasuk toko dan masjid, dibakar. (hry)

 

3956283

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\