IQNA

Pengenalan Tafsir dan Para Mufasir/ 14

Sebuah Penelitian Interpretatif dalam Membuktikan Keajaiban Penjelasan Alquran

20:30 - January 12, 2023
Berita ID: 3477860
TEHERAN (IQNA) - Sayyid Radhi telah berbicara tentang keajaiban Alquran dalam aspek ekspresif dan metaforis Alquran dalam karya tafsirnya.

Salah satu tafsir Syi'ah yang memiliki pendekatan baru dalam penafsiran Alquran adalah Talkhis al-Bayan fi Majazat Al-quran" karya Sayyid Radhi. Sayyid Radhi menggunakan kejeniusan dan pengetahuannya yang kaya dalam karya komentar ini untuk menyusun karya independen pertama tentang metafora Alquran. Tafsirnya dalam satu jilid berbahasa Arab adalah tentang tafsir ayat-ayat Alquran, terutama kata-kata, ungkapan kinayah (kiasan) dan metaforis.

Buku ini dianggap sebagai salah satu karya penelitian terpenting abad keempat, yang menuturkan sejumlah metafora (penggunaan kata dan ucapan dalam arti lain dan non-leksikal), metafora (simile) dan kinayah/kiasan (ucapan tersamar sehingga maknanya tidak jelas) dari Alquran dalam urutan surah dan ayat serta mengutip banyak puisi Arab dan telah mengungkapkan aspek keajaiban retoris ekspresif Alquran.

Balaghah secara bahasa berarti kefasihan menurut "penerima" dan dalam istilah, itu berarti kesesuaian kata-kata dengan kebutuhan audiens.

Siapakah Sayyid Radhi?

Muhammad bin Husein bin Musa dikenal sebagai Sayyid Radhi (359-406 H: 969-1015 M) adalah salah satu ulama Syiah dan saudara Sayyid Murtadha. Sayyid Radhi memegang posisi penting seperti hakim dan Amir al-Hajj (pengawas peziarah rumah Allah dalam urusan haji) selama pemerintahan Al-Buyeh di Iran, dan puisi Diwannya masih ada. Sayyid Radhi memiliki karya di bidang teologi dan tafsir, dan karya terpentingnya adalah kumpulan Nahjul Balaghah. Dia juga mendirikan Dar al-Ilmi, yang diyakini sebagian orang sebagai madrasah pertama ilmu-ilmu agama.

Dia belajar dengan Muhammad Tabari Maliki, Abu Abdillah Jurjani (meninggal 397 H, 1096 M), ahli hukum Hanafi, Qadhi Abdul Jabbar Mu'tazili dan Ikfani Qadhi (meninggal 405 H, 1014 M) di kalangan ulama Sunni. Mereka telah menulis tentang pembelajaran fikih dan prinsip-prinsip Sayyid Radhi dari ulama non-Syiah Imamiyah, dimana tanggung jawab dalam mengadili memotivasi dirinya untuk mempelajari fikih semua mazhab.

Fitur tafsir Talkhis al-Bayan

Menyebutkan bacaan yang berbeda menurut pendapat tujuh qari, membahas arti kata dan kombinasi Alquran, mengomentari masalah kontroversial, menggunakan hadis dalam menjelaskankan metafora dan kombinasi Alquran adalah beberapa fitur dari tafsir ini.

Pembahasan pertama dalam buku Sayyid Radhi adalah tentang ayat ketujuh dari surah Al-Baqarah, yang berbunyi:

خَتَمَ الله عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ

"Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat." Ayat ini tentang orang-orang munafik, bahwa Allah berfirman penglihatan mereka ditutup, dan ini sebenarnya adalah metafora, karena orang-orang munafik benar-benar melihat sesuatu dan menggerakkan mata mereka, tetapi karena mereka tidak mengambil manfaat dan pelajaran yang diperlukan darinya, Allah mengungkapkan mata mereka tertutupi.

Pembahasan akhir dari bukunya adalah tentang ayat pertama sampai ketiga dari surah Al-Insyirah, yang berbunyi:

أَ لَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ، وَ وَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ، اَلَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu?”. Sayyid Radhi mengatakan tentang ayat ketiga bahwa penafsiran "yang memberatkan punggungmu " ini adalah majaz dan metafora, karena Nabi Muhammad (saw) adalah maksum dan tidak melakukan dosa apapun, baik menurut pendapat bahwa Nabi (saw) tidak melakukan dosa besar atau dosa kecil atau menurut pendapat tidak mungkin melakukan kejahatan kecil, sekalipun punggungnya patah dan terdengar bunyi patahannya. Arti "Wizrun" dalam surah ini adalah kesulitan dan penganiayaan besar yang dilihat Nabi (saw) dari kaumnya di jalan mendakwahkan risalahnya.

Kitab ini telah dicatat oleh para ahli tafsir berikutnya dan mereka telah mengutip dan mempercayai tafsirnya, sehingga Qutb Rawandi, Huwaizi dan lain-lain telah mengutip pendapat kitab ini dalam tafsir mereka.

Poin penting tentang buku ini adalah bahwa pada masa Sayyid Radhi, pemikiran Dzahiriyyah dan Salafiyyah sangat populer, yang menolak takwil majazi dari ayat-ayat Alquran dan sunnah Nabi, dan berbagai buku Sayyid Radhi tentang "Majazat Alquran" adalah jawaban yang pasti dan ilmiah untuk kecenderungan yang menyimpang ini serta bukti penggunaan majaz dalam Alquran dan hadis Nabi. (HRY)

captcha