
Hujjatul Islam wal-Muslimin Javad Mohaddesi, pengajar hauzah, membahas beberapa petikan munajat-munajat indah dalam pembahasan syarah munajat Sya’baniyah, yang akan Anda baca berikut ini:
Di sebagian munajat Sya’baniyah, kita berkata kepada Allah swt;
إِلٰهِى كَيفَ آيَسُ مِنْ حُسْنِ نَظَرِكَ لِى بَعْدَ مَماتِى وَأَنْتَ لَمْ تُوَلِّنِى إِلّا الْجَمِيلَ فِى حَيَاتِى؛ إِلٰهِى تَوَلَّ مِنْ أَمْرِى مَا أَنْتَ أَهْلُهُ، وَعُدْ عَلَىَّ بِفَضْلِكَ عَلىٰ مُذْنِبٍ قَدْ غَمَرَهُ جَهْلُهُ. إِلٰهِى قَدْ سَتَرْتَ عَلَىَّ ذُنُوباً فِى الدُّنْيا وَأَنَا أَحْوَجُ إِلىٰ سَتْرِها عَلَىَّ مِنْكَ فِى الْأُخْرىٰ
“Tuhanku, bagaimana mungkin aku berputus asa pada pandangan baikku kepada-Mu setelah kematianku, padahal Engkau tidak memberikan kepadaku selain yang indah saja dalam hidupku. Tuhanku, perlakukanlah aku apa yang Engkau layak melakukannya. Kembalilah kepadaku dengan karunia-Mu yang Kauberikan kepada pendosa yang sudah dipenuhi kebodohannya. Tuhanku, jika telah Kaututupi dosa-dosaku di dunia, padahal aku sangat memerlukan penutupan pada hari akhirat nanti.”
Pada petikan sebelumnya, kita membaca bahwa, “Tuhanku, tidak henti-hentinya kebaikan-Mu mengalir padaku di hari-hari hidupku, maka jangan putuskan kebaikan-Mu padaku di hari kematianku. Tuhanku, bagaimana mungkin aku berputus asa pada pandangan baikku kepada-Mu setelah kematianku, padahal Engkau tidak memberikan kepadaku selain yang indah saja dalam hidupku.”
Allah swt di sepanjang umur kehidupan kita dan hidup serta keberadaan kita bergantung pada pemeliharaan-Nya dan kita berharap Dia memperlakukan kita seperti ini setelah kematian dan berpandangan baik dengan kita.
وَعُدْ عَلَىَّ بِفَضْلِكَ عَلىٰ مُذْنِبٍ قَدْ غَمَرَهُ جَهْلُهُ
“Dan kembalilah kepadaku dengan karunia-Mu yang Kau berikan kepada pendosa yang sudah dipenuhi kebodohannya”
Artinya, tunjukkan kebaikan dan karunia-Mu kepadaku; aku adalah seorang pendosa yang seluruh keberadaannya telah diliputi ketidaktahuan dan kebodohan dan aku tenggelam dalam ketidaktahuan dan biasanya dosa berakar pada ketidaktahuan akan Tuhan, diri sendiri dan akibat dari dosa, ketidaktahuan tentang pahala apa yang diberikan Tuhan untuk orang-orang yang baik.
Penutupan Allah adalah contoh bagi hamba-Nya
إِلٰهِى قَدْ سَتَرْتَ عَلَىَّ ذُنُوباً فِى الدُّنْيا وَأَنَا أَحْوَجُ إِلىٰ سَتْرِها عَلَىَّ مِنْكَ فِى الْأُخْرىٰ
“Tuhanku, jika telah Kau tutupi dosa-dosaku di dunia, padahal aku sangat memerlukan penutupan pada hari akhirat nanti, karena Engkau tidak menampakkannya di hadapan orang-orang yang saleh, maka jangan permalukan aku pada hari kiamat di hadapan para saksi.”
Kita membaca dalam do’a Kumail:
ولا تفضحنی بخفی ماالطلعت علی من سری
“Jangan Kau buka rahasia tersembunyiku, yang Engkau ketahui”.
Imam As-Sajjad (as) mengatakan bahwa Anda harus belajar dari Allah dalam melindungi kehormatan dan menutupi orang lain serta tidak menimbulkan skandal pada orang. Ya Allah, Engkau tidak menghilangkan kehormatanku di dunia ini, dan saya sangat butuh penutupan-Mu di akhirat, dan harapan kami dari kedermawanan dan keutamaan-Mu adalah menjadikan akhir kami menjadi baik.
إِلٰهِى قَدْ أَحْسَنْتَ إِلَىَّ إِذْ لَمْ تُظْهِرْها لِأَحَدٍ مِنْ عِبادِكَ الصَّالِحِينَ فَلا تَفْضَحْنِى يَوْمَ الْقِيامَةِ عَلىٰ رُؤُوسِ الْأَشْهادِ. إِلٰهِى جُودُكَ بَسَطَ أَمَلِى، وَعَفْوُكَ أَفْضَلُ مِنْ عَمَلِى. إِلٰهِى فَسُرَّنِى بِلِقائِكَ يَوْمَ تَقْضِى فِيهِ بَيْنَ عِبادِكَ. إِلٰهِى اعْتِذارِى إِلَيْكَ اعْتِذارُ مَنْ لَمْ يَسْتَغْنِ عَنْ قَبُولِ عُذْرِهِ فَاقْبَلْ عُذْرِى يَا أَكْرَمَ مَنِ اعْتَذَرَ إِلَيْهِ الْمُسِيئُونَ.
Tuhanku, Kau telah berbuat baik kepadaku.....karena Engkau tidak menampakkannya di hadapan orang-orang yang saleh, maka jangan mempermalukan aku pada hari kiamat di hadapan para saksi.
Tuhanku, anugrah-Mu lebih luas dari harapku; maaf-Mu lebih utama dari amalku. Tuhanku, bahagian aku ketika berjumpa dengan-Mu pada hari kau tetapkan keputusan di antara hamba-hamba-Mu. Tuhanku, permohonan maafku kepada-Mu adalah permohonan seseorang yang sangat memerlukan penerimaan permohonannya. Terimalah permohonan maafku. Wahai yang paling pemurah untuk dimohonkan oleh para pendosa.
Ru’us al-Asyhad, artinya sebuah tempat dimana banyak saksi dan pengamat; hari kiamat adalah hari berkumpul dan kebangkitan umum manusia dan ada amal baik dan buruk serta penghakiman; Ya Tuhan, Engkau yang telah menunjukkan kasih sayang kepadaku di dunia ini dan tidak mengungkapkan dosa-dosaku, tutupilah diriku pada hari kiamat. (HRY)