
Para santri yang melihat aksi Kiai Subkhi pun terkesima. Apalagi beberapa waktu kemudian, datang laporan dari para pejuang yang menyatakan bahwa ada pesawat Cocor Merah yang terjun ke Rawa Pening. Katanya, pesawat itu mengalami gangguan mesin sehingga pesawat pun jatuh tercebur masuk ke dalam rawa.
Kisah inilah yang kemudian meluas dengan cara beredar dari mulut ke mulut. Menteri agama di era Presiden Suekarno, KH Syaifuddin Zuhri pun dalam sebuah otobiografinya kemudan mengisahkan: “Setelah itu berbondong-bondonglah barisan-barisan laskar dan anggota TKR (Tentara Keamanan Rakyat) menuju ke Parakan, sebuah kota kawedanan di kaki dua gunung pengantin Sundoro dan Sumbing menemui Kiai Subkhi. Para tokoh ulama, di antaranya yang paling terkenal adalah komandan Hizbullah KH Zainul Arifin dan komandan Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH Masykur."
“Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia” di bawah pimpinan Bung Tomo datang dari Surabaya, “Barisan Banteng” di bawah pimpinan dr. Muwardi, dan Laskar Rakyat dari sekitar Jawa Tengah di bawah pimpinan Ir. Sakirman, dan 'Laskar Pesindo” dari kawasan 'Mataraman' di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur di bawah pimpinan Krissubbanu pun mendatanginya. Bahkan sudah beberapa hari ini baik TKR maupun badan-badan kelaskaran berbondong-bondong menuju ke Parakan,'' tulis KH Syaifuddin Zuhri.
Sejak itulah Kiai Moh Subkhi dari Pondok Pesantrenn Parakan disebut 'Kiai Bambu Runcing'. Kota Parakan oleh para pejuang dan rakyat kemudian diberi nama sebagai kota bambu runcing.
Selain sebagai Kiai berpengaruh memberikan suwuk kepada para pejuang yang membawa bambu runcing, harap diketahui bahwa peran Kiai Subkhi sangat sentral dalam perjuangan gerilya yang dilakukan Panglima Besar Jendral Sudirman (Pak Dirman). Kala itu Kiai Subkhi adalah penasihat spriitual Pak Dirman yang sangat sering datang ke pesantrennya dengan diam-diam.
Alhasil, amalan doa dan zikir yang terus didaraskan bibir Pak Dirman sepanjang melakukan gerilya adalah pilihan selaku amalan yang disarankan oleh Kiai Subkhi. Kenyataan ini dimengerti sebab Pak Dirman adalah seorang Muslim yang saleh dan aktivis organisasi Muhammadiyah. Sebelum menjadi tentara pada zaman Jepang, Pak Dirman adalah guru sekolah Muhammadiyah di Cilacap, Jawa Tengah. (HRY)