Menurut Iqna mengutip Outlook India, setiap tahun, jutaan peziarah melakukan perjalanan dari gurun di Irak selatan ke kota suci Karbala untuk berpartisipasi dalam ziarah Arbain, salah satu pertemuan tahunan terbesar di dunia. Tahun ini, para peziarah akan berkumpul di Karbala pada tanggal 5 Agustus.
Media India tersebut menulis: “Arbain diperingati 40 hari setelah Asyura, hari ketika Syiah memperingati kesyahidan Imam Husain (as), cucu Nabi Muhammad (saw)”.
Menurut laporan tersebut, hanya sedikit ritual yang dapat mengungkapkan berbagai dimensi Syiah seperti Arbain; mulai dari pengorbanan dan kesyahidan hingga perjuangan melawan penindasan dan kemampuannya untuk menyatukan jutaan orang.
Syahadah yang Membentuk Tradisi
Pada tahun 680 M, Imam Husain (as) berangkat ke Irak dengan sekelompok kecil keluarga dan sahabatnya, tetapi dikepung oleh pasukan yang jauh lebih besar di dekat Karbala dan syahid bersama sekitar 70 sahabatnya. Wanita dan anak-anak dari kafilah tersebut juga ditawan dan digiring ke Damaskus, ibu kota negara Bani Umayyah.
Bagi kaum Syiah, peristiwa ini bukan sekadar kekalahan politik, tetapi pengorbanan untuk melestarikan kebenaran agama. Dengan menentang pemerintahan Bani Umayyah, Imam Husain (as) bangkit melawan pemerintahan yang dianggapnya menindas dan bertentangan dengan ajaran Islam.
Bagi kaum Syiah, peringatan kesyahidan Imam Husain (as) merupakan pengingat akan ajaran Nabi Muhammad (saw) dan keluarganya. Peristiwa ini melambangkan pertempuran abadi antara kebenaran dan kebatilan.
Longmarch Arbain
Saat ini, longmarch Arbain yang paling terkenal membentang sekitar 78 kilometer dari Najaf, tempat pemakaman Imam Ali (as), ke makam Imam Husain (as) di Karbala, rute yang biasanya dengan berjalan kaki ditempuh dalam waktu sekitar tiga hari. Di sepanjang jalan, diadakan maukib-maukib dan para sukarelawan menyediakan makanan, teh, layanan medis, dan tempat istirahat gratis bagi para peziarah.
Seyed Akbar Haider, seorang cendekiawan studi Syiah, menulis: “Saya mengunjungi Karbala selama Arbain. Sungguh menakjubkan bagi saya bahwa sebuah negara dengan konflik dan ketidakstabilan selama beberapa dekade dapat menyediakan makanan dan minuman gratis kepada jutaan orang selama seminggu. Pengalaman itu menunjukkan bahwa kisah pengorbanan Imam Husain (as) terus menginspirasi perwujudan keramahan yang langka, bahkan dalam keadaan yang paling sulit.”
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah peserta Arbain diperkirakan mencapai lebih dari 20 juta orang, dan banyak yang menganggapnya sebagai pertemuan tahunan terbesar di dunia.
Puisi epik "Pertempuran Karbala" ditulis oleh penyair Syiah terkemuka India, Mir Anees, pada abad ke-19.
Di akhir laporan disebutkan, bagi jutaan peziarah yang tiba di Karbala setiap tahun pada Arbain, pesan dari acara tersebut bersifat historis dan kontemporer: Untuk mengunjungi makam seorang pria yang syahid 14 abad yang lalu dan untuk menekankan fakta bahwa perlawanannya terhadap penindasan dan ketidakadilan terus memiliki makna dan kepentingannya bagi dunia saat ini. (HRY)