Syekh Yakub Yahya Katsina, seorang anggota senior Gerakan Islam Syiah Nigeria dan murid Syekh Zakzaky, dalam sebuah wawancara dengan IQNA menjelang Arbain, menjelaskan filosofi ziarah Arbain dan peringatan event ini oleh kaum Syiah serta keikutsertaan para pengikut agama, sekte, dan ritual yang berbeda. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan IQNA dalam hal ini, yang dibahas secara rinci di bawah ini.
Iqna - Menurut Anda, apa saja ritual terpenting Arbain yang dianjurkan untuk dipraktikkan oleh para peziarah?
Kita semua tahu bahwa Imam Husain (as) bangkit untuk membawa reformasi di negara leluhurnya. Reformasi tidak terbatas pada perubahan politik. Para peserta ziarah ini hendaknya memperhatikan etika Islam dan mengikuti teladan Imam Husain (as) dan para sahabatnya dengan mempraktikkan kesabaran dan kekuatan dari iman, ketulusan, dan pengorbanan.
Selain itu, kejujuran dalam berbicara, dapat dipercaya, melaksanakan shalat tepat waktu, dan memperlakukan tetangga dengan baik tanpa memandang ras, warna kulit, atau bahkan agama, harus diperhatikan, dan mereka harus tahu bahwa Imam Husain (as) milik semua orang dan kecintaan kepadanya mempersatukan kita. Sebagai tambahan, rasa kasih sayang dan kepedulian terhadap orang-orang yang rentan, termasuk wanita, anak-anak, dan bahkan hewan, sangatlah penting.
Iqna - Bagaimana Anda menilai peran Arbain dalam upaya mendekatkan antar mazhab dan persatuan bangsa?
Salah satu aspek penting dari ritual Husaini - khususnya pawai Arbain - adalah persatuan berbagai agama, sekte, dan mazhab.
Iqna - Dapatkah kehadiran para pengikut berbagai agama dan kebangsaan dalam acara Arbain dianggap sebagai bentuk "diplomasi publik" untuk menyebarkan budaya perdamaian di seluruh dunia?
Ziarah Arbain berfungsi sebagai bentuk diplomasi publik untuk memublikasikan budaya perdamaian di dunia yang penuh tantangan, terutama di abad dan era ini yang sarat dengan sektarianisme, rasisme, dan perlombaan senjata. Jutaan orang berkumpul di Karbala, Najaf, dan berbagai tempat suci; namun, jarang sekali terjadi perkelahian atau terdengar kabar tentang pencurian atau penggelapan. Hal ini sejalan dengan tujuan utama Islam, yaitu mengubah umat manusia menjadi satu keluarga yang ditandai dengan perdamaian, harmoni, dan saling pengertian, sebagaimana ucapan Imam Ridha (as): “Sekiranya orang-orang mendengar keindahan kata-kata Kami, niscaya mereka akan mengikuti Kami”. (HRY)