IQNA

Tujuan Utama Konfrensi Anapolis adalah Melemahkan Peran Kaum Muslimin di Kawasan

16:53 - November 27, 2007
Berita ID: 1606091
Konfrensi Anapolis tidak lebih dari sebuah drama diplomatik yang memiliki tujuan utama melemahkan peranan kaum muslimin di Kawasan
Hasan Samadi, Ketua Partai Islam Azerbaeyjan dalam wawancaranya dengan Iqna mengatakan hal itu dan menambahkan, bahwa konfrensi Anapolis yang mereka katakan dalam rangka menciptakan perdamaian itu hanya akan memberikan manfaat tambahan kepada zionisme Israel dan merealisasikan berbagai ambisi buruk Israel dan Amerika.

Samadi menegaskan,bahwa pertemuan ini sebenarnya memiliki akar sejarah sejak 10 hingga 15 tahun yang lalu, dimana negara-negara Islam belum meiliki kemajuan yang signifikan, karenanya mereka sama sekali tidak akan mampu merealisasikan keinginan dan cita-citanya.

Samadi menambahkan, bahwa alasan mengapa Iran tidak diundang untuk menghadiri konfrensi tersebut, karena Iran telah membuktikan selama sejak 28 tahun yang lalu selalu berdiri dengan kokoh memperjuangkan hak-hak rakyat tertindas dan bersikap konsekuen dengan setiap negara di dunia, karenanya imprealisme internasional selalu takut jika mengundang Iran untuk menghadiri pertemuan ini maka akan menjadi kontra produktif buat keinginan dan cita-cita mereka.

Berkenaan dengan hasil dari konfrensi yang akan berlangsung sejak hari ini selama 72 jam adalah kegagalan mutlak rezim Israel untuk meraih keinginan dan tujuannya. namun kalaupun ada kesepakatan di antara mereka, tetap saja tidak ada jaminan Israel akan komitmen dan melaksanakan kesepakatan tersebut.

Hal itu menurutnya, karena selama 60 tahun Israel telah terbukti tidak pernah memiliki komitmen atas yang telah disepakati dengan jalan diplomatik, namun yang ada adalah pelanggaran demi pelanggaran.

Husein Samadi yang datang ke Tehran dalam rangka ikut serta dalam persiapan pertemuan antar Partai-partai islam sedunia menilai bahwa diselenggarakannya pertemuan antar partai Islam sedunia ini adalah penting demi memperkuat persatuan dan persaudaraan di kalangan partai-partai Islam se dunia.

Samadi menegaskan, bahwa barat yang tidak memiliki prinsip-prinsip bersama yang berdasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi dapat menjalin persatuan di kalangan mereka, sementara kita yang memiliki banyak kesamaan dalam prinsip begitu juga adanya satu Quran di antara kita yang mengajak pada persatuan dan kerukunan Islam maka mengapa kita tidak bisa bersatu dan hidup rukun?

Pada akhir wawancaranya dia menyebutkan perlunya seorang pemimpin yang dapat mempersatukan semua langkah dan hati kaum muslimin. karenanya pengalaman Iran dengan kepemimpinan Imam ALi Khamenei membuktikan kepada kita bahwa keberadaan seorang pemimpin sangatlah efektif dalam rangka menjalin persatuan dan menggapai berbagai tujuan yang diharapkan.

195088

captcha