IQNA

Penulis Terkemuka Turki:
8:15 - August 13, 2015
Berita ID: 3341770
TURKI (IQNA) - Cara paling efektif untuk membuktikan perdamaian ajaran-ajaran Islam adalah menyebarkan sebuah contoh pendidikan benar, dengan tujuan melawan pemahaman salah tentang agama tauhid ini dan menjauhi segala distorsi.

Menurut laporan IQNA, Harun Yahya, penulis terkemuka Turki, dalam sebuah makalah yang baru-baru saja dipublikasikan di situs Pravda, dengan mengetengahkan topik Islam dan perdamaian, dia menganalisis kondisi dunia Islam saat ini, yang perinciannya adalah sebagai berikut:
Kalimat “Islam adalah Agama Perdamaian”, saat ini bagi orang-orang yang tidak mengenal hakikat agama ini, kurang lebih akan berubah menjadi sebuah klise yang tidak dapat dijustifikasi. Banyak sekali masyarakat dengan memperhatikan ketidaktenteraman di Timur Tengah dan kondisi dunia Islam saat ini, mereka tidak meyakini realita yang mengatakan bahwa Islam dalam arti sejati adalah pembela-pembela perdamaian. Mereka berhak untuk berfikir demikian, karena perdamaian tidak diraih melalui peperangan. Dengan demikian, ada sebuah kondisi yang tidak semestinya dibuang dari akal: Orang-orang yang dengan nama Islam lebih memprioritaskan perang, maka mereka telah melakukan kesalahan besar.
Ironisnya, sebagian umat Islam telah melalaikan Al-Quran, mereka berperantara dengan sumber-sumber lain, dan menempuh jalan non-Al-Quran, yang menyebabkan perang dan kekerasan dengan mengatasnamakan Islam, membangun sistem tirani dan berperantara dengan kelaliman.
Sebuah kelompok yang terdiri dari para seniman di Rusia, dengan saling bekerjasama satu sama lain dan dengan tujuan mengetengahkan gambaran positif tentang Islam, mereka berupaya meningkatkan kehidupan berkualitas masyarakat muslim di negara ini dan mensterilkan propaganda-propaganda negatif terhadap kaum muslimin. Hal ini sangat mendapat perhatian, khususnya dengan melihat bahwa dalam sepanjang tahun terakhir, Islam telah terciderai akibat ulah interperetasi-interpretasi salah sejumlah orang dan masalah ini – dengan sendirinya – memunculkan Islamofobia.
Kaum muslimin Rusia membentuk pertemuan besar yang mencakup pelbagai etnis. Saat ini kurang lebih 2 juta muslim hidup di Moskow, dimana jumlah ini telah membentuk 16% populasi ibukota ini.
Karena tingkat kelahiran yang tinggi di kalangan kaum muslimin Rusia, para pakar memprediksikan jumlah kaum muslimin dalam kurun 3 abad mendatang akan bertambah menjadi 25%. Ironisnya masyarakat Muslim Rusia pada sebelum-sebelumnya telah menderita akibat ekstremisme. Meski demikian, kaum muslimin Rusia meyakini bahwa corak hidup dan pemahaman mereka tentang Islam telah mengalami perubahan secara signifikan. Oleh karenanya, mereka meyakini bahwa upaya untuk mencerminkan citra yang lebih baik dari diri mereka sebagai wakil Islam yang sebenarnya adalah hal yang urgen dan harus diprioritaskan.
Gambaran yang telah diketengahkan oleh ekstremisme dan terorisme dengan menyalahgunakan nama Islam kepada masyarakat dunia, menunjukkan kebencian, barbarisme dan permusuhan dengan moral, ilmu dan seni. Dengan demikian, kemaslahatan dan hikmah menuntut sebagai ganti dari upaya semata untuk mencari kesalahan para non muslim dan menuduh mereka dengan publikasi Islamofobia, mereka menganalisis dampak-dampak gambaran tidak benar Islam ini, yang diambil dari khurafat dan kebodohan.
Bagi kaum muslimin, khususnya minoritas muslim di negara-negara non-Islam, sama sekali tidak memperdulikan pengambilan corak kehidupan yang dibarengi dengan perdamain dan kecintaan, sebagaimana masa sekarang ini. Pelaksanaan perdamaian dan kecintaan dalam sebuah masyarakat dengan tanpa mempertimbangkan sebab dan faktor-faktor Islamofobia tidak akan terealisasi. Untuk merealisasikan masalah penting ini, kaum muslimin harus menunjukkan kepada masyarakat dunia bahwa  manusia-manusia pencipta perdamaian adalah manusia-manusia yang menghormati agama dan etnis-etnis lainnya dan sangat berupaya untuk tujuan ini.
Cara paling efektif untuk mengokohkan perdamaian ajaran-ajaran Islam adalah menyebarkan sebuah contoh pendidikan benar, dengan tujuan melawan pemahaman yang salah tentang agama tauhid ini dan menjauhi segala distorsi.
Harun Yahya lahir di kota Ankara, ibukota Turki, pada tahun 1956 M. Nama aslinya adalah Adnan Oktar. Pada tahun 1990, dia meluncurkan Lembaga Riset Ilmiah BAV.
Yahya menulis banyak buku, dimana tujuannya adalah mengenalkan masyarakat non muslim dengan Islam.
Buku-bukunya yang ditulis tentang ilmu kebanyakan ditulis dengan tujuan menolak evolusi (teori kesempurnaan), materialisme dan Atheis. Lembaga BAV telah mencetak buku penciptaan Atlas, pada tahun 2006 dan penjilidan kedua dan ketiganya pada tahun 2007. Menurut penulisan New York Time, dapat dikatakan bahwa buku ini merupakan karya terpenting melawan pendapat teori evolusi Darwin.

3340941

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha: