IQNA

Gerakan Takfiri; Substansi dan Akar/ Saat Wawancara dengan IQNA;
8:22 - December 22, 2015
Berita ID: 3468012
IRAN (IQNA) - Ali Akbar Dhiya’i dengan mengisyaratkan aktivitas gerakan ekstrem Islamis di Asia Tenggara mengatakan, para ekstremis memiliki kedudukan intelektual dan ideologi kokoh di tengah-tengah muslim kawasan ini.

Ali Akbar Dhiya’i, magister dunia Islam saat wawancara dengan IQNA menjelaskan kedudukan dan pengaruh kelompok-kelompok radikal dan ekstrem di negara Asia Tenggara dan mengatakan, kelompok ekstrem Islam memiliki kedudukan intelektual dan keyakinan kokoh di tengah-tengah muslim kawasan Asia Tenggara dan salah satu faktor perkembangan ekstremisme religi di kawasan ini adalah kecintaan berlebihan komunitas muslim Asia Tenggara terhadap muslim Timur Tengah, terkhusus Arab Saudi, Mesir, Palestina, Yordania sebagai kawasan suci para nabi Allah dan tempat kelahiran agama Islam.

Orientasi “Gerakan yang Menominasi Dunia Arab” dan “Kebijakan Religi yang Diambil dari Islam Suci”
Dia mengungkapkan, mayoritas remaja muslim Asia Tenggara menganggap bahasa Arab sebagai bahasa Islam dan sangat menghormati orang yang berbicara dengan bahasa tersebut; mereka mengorientasikan “Gerakan yang Menominasi Dunia Arab” sebagai “Kebijakan Religi yang Diambil dari Islam Suci” dan apabila gerakan yang mendominasi ini – yang terkadang orang seperti Yusuf Qardhawi juga menjadi pemimpinnya – mengambil sikap terhadap suatu mazhab atau negara-negara lain, maka sikap tersebut dianggap legal dan sesuai dengan norma-norma Islam.
“Pengetahuan dangkal inilah yang menyebabkan banyak sekali para remaja tidak memiliki pandangan jelas terhadap hubungan teroris jihad dengan USA dan Zionis serta sebagai gantinya mendukung para syaikh-syaikh Arab dan pendukung mereka akan gerakan-gerakan tersebut mereka anggap sebagai dalil legalitas agama mereka dan kedangkalan pandangan ini merupakan sarana terbaik untuk memikat para remaja muslim yang semangat untuk memerangi para penentang Islam, sesuai dengan penuturan yang telah dikeluarkan oleh para mufti dan wahabi negara-negara Arab,” lanjut magister dunia Islam.
Menurut Dhiya’i, termasuk ranah-ranah ekstremisme religi di kawasan ini adalah kebijakan salah negara-negara kawasan Asia Tenggara dalam mengeluarkan visa untuk para pengikut negara-negara pendukung ekstremis religi, jaringan internet cepat di kawasan dan pembukaan puluhan bank-bank Arab, dimana operasional perbankan mereka tersembunyi dari pengawas internasional dan pendirian universitas yang berafiliasi dengan Saudi.

Negara mana yang Mendukung Perkembangan Ekstremisme di Asia Tenggara?
Dia dengan menjelaskan bahwa ekstremisme dan penyebarannya di Asia Tenggara menguntungkan Saudi dan sebagian negara-negara Arab dan demikian juga Amerika, yang sedang melawan pengaruh Cina di kawasan ini mengatakan, cabang-cabang aksi Al-Qaida,yang muncul di Pakistan dalam proses pembentukan Taliban dalam melawan pengaruh Uni Soviet di Afganistan, termasuk unsur terpenting pengaruh Amerika dan Saudi di kawasan muslim Asia Tenggara.
Magister jurusan dunia Islam melanjutkan, kelompok Al-Qaida yang tidak memiliki kapasitas lazim untuk kerjasama dengan pasukan pembebasan Suriah dan Jabhat al-Nusra di negara ini, saling berhadapan satu sama lain dan politik Amerika untuk mengganti gerakan penentang negara Suriah akhirnya menghadapi kekalahan; karena aktivitas operasional poros tersebut diembankan oleh kelompok ekstrem Al-Qaida dan Amerika sangat murka kepada Saudi atas kelalaian tersebut, yang akhirnya mengganti menteri Luar Negari dan penanggung jawab operasional Saudi di Suriah.

Provokasi Sentimental Remaja Muslim dengan Klaim Melawan Pengaruh Syiah
Dhiya’i mengungkapkan, sementara itu Arab Saudi memainkan peran mediator untuk menjalankan operasional pengaruh Amerika di selatan Cina dan hanya satu-satunya permainan yang tersisa di tangan Saudi adalah menggunakan kelompok ekstrem Al-Qaida, yang dapat mengorganisasi pelbagai muslim Asia Tenggara sebagai front dalam melawan pengaruh Cina dan memprovokasi sentimental para remaja muslim kawasan tersebut dengan mewarnai dan mereligikannya yakni melawan pengaruh Syiah dan ini adalah kesalahan kedua dalam perhitungan informasi Amerika, yaitu yang pertama terjadi di Suriah dan kali ini terjadi di Asia Tenggara dan hasilnya adalah munculnya kekacauan dan konflik etnis di kalangan Cina, Buddha, Hindu dan Muslim.
Bersambung…

3467173

Kunci-kunci: Wawancara
Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\