Menurut laporan IQNA, seperti dikutip dari Al-Alam, laporan tersebut menambahkan, tersangka adalah warga Suriah, namun kelahiran Arab Saudi.
Sebelumnya dikatakan gubernur Istanbul, ledakan hari Selasa (12/1), terjadi di bundaran Sultan Ahmed, di dekat gereja Ayasofya dan masjid Kabud, yang termasuk situs terpenting kota ini, telah menewaskan 10 orang dan melukai 15 lainnya.
PresidenTurki, satu jam pasca ledakan hari Selasa mengatakan bahwa pelaku aksi peledakan ini adalah warga Suriah.
Sebagaimana yang diberitakan Anatoli, Erdogan dengan mengecam serangan tersebut, juga memperkenalkan pelaku peledakannya adalah warga asal Suriah.
Provinsi Istanbul yang berafiliasi dengan kelompok teroris ISIS dengan mengeluarkan sebuah statemen mengemban tanggung jawab peledakan tersebut.
Erdogan selalu berupaya menyembunyikan peran negaranya dalam mengayomi para teroris, yaitu negara tersebut berada disamping Arab Saudi, Qatar dan kekuatan trans regional, seperti Amerika pada tahun-tahun terakhir secara serius mendukung kelompok-kelompok teroris, seperti ISIS dan Al-Nusra di Irak dan Suriah dan para pejabat Ankara menanamkan mimpi-mimpi pembagian dua negara ini ke tangan para teroris.
Ankara dengan menciptakan persekutuan antara ISIS dan mantan kelompok-kelompok pemberontak di Irak, juga menarget pendirian pemerintah yang dikehendaki, dukungannya dan juga pembagian Irak dan di Suriah juga mengintroduksikan tujuan pokoknya yaitu penumbangan Bashar Assad.
Sebuah kebijakan yang dibarengi dengan dukungan-dukungan finansial dan spiritual Turki untuk kelompok ISIS dan Al-Nusra, dan sekarang ini masyarakat Turki harus membayar harganya.