IQNA

IQNA:
6:41 - September 01, 2017
Berita ID: 3471528
MYANMAR (IQNA) -Hari-hari ini umat muslim Myanmar sekali lagi merasakan satu tragedi lama, yang terjadi di bawah naungan kebungkaman sejumlah negara dan tolok ukur ganda PBB.

Menurut laporan IQNA, hari-hari ini gelombang baru sejumlah kekerasan terjadi di propinsi Rakhine, Myanmar.

Telah terjadi bentrokan di dekat perbatasan Myanmar dan Bangladesh pada hari Jumat (25/8), yang sampai sekarang dampaknya masih terus berlanjut.

Statistik tidak resmi menunjukkan di hari-hari terakhir ini ratusan muslim Rohingya kehilangan nyawanya.

Tentu saja, perkembangan serupa terjadi dalam beberapa hari terakhir di bulan Oktober tahun lalu, dimana di situ banyak sekali umat muslim dibunuh secara masal. Namun pada hari-hari ini di Myanmar kita menyaksikan insiden yang lebih mengkhawatrikan, dimana sekali lagi ada kemungkinan terjadi pembunuhan masal berdarah seperti tahun 2012 M.

Bersamaan dengan penambahan kehadiran para militer Myanmar di propinsi Rakhine sejak awal-awal bulan lalu, dan peningkatan penindasan umat muslim, ribuan dari mereka telah meninggalkan rumah mereka. Sudah bertahun-tahun pemerintah Myanmar tidak memberikan hak-hak sosial dan politik umat muslim negara ini dan bahkan menggiring mereka menuju lembah kekerasan.

Propinsi Rakhine sejak tahun 2012 menjadi arena serangan pasukan Myanmar dan para ekstremis Buddha terhadap minoritas muslim Rohingya. Sampai sekarang sejumlah serangan ini telah menewaskan ratusan orang dan puluhan ribu lainnya juga terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Hari Jum’at, sebagian berita dan harian terkemuka dunia mengabarkan bentrokan antara muslim Myanmar dan pasukan negara ini di dekat perbatasan Bangladesh. Sementara itu diumumkan statistik berbeda tentang jumlah orang-orang yang tewas. Sejumlah harian seperti The Guardian dan berita-berita seperti Reuters mengumumkan jumlah keseluruhan yang tewas sebanyak 71 orang. Selain itu sebagian dari sumber-sumber berita juga memaparkan statistik yang berbeda dalam hal ini.

Harian The Guardian, Jumat, langsung pasca bentrok di perbatasan Myanmar memublikasikan sebuah judul sebagai berikut:

Kesinambungan Genosida Senyap di Myanmar dengan Label Anti-Terorisme (Bagian 1)

Sejumlah orang tewas dalam pertempuran antara tentara Myanmar dan para Militan Rohingya

Sebagaimana yang terlihat dari gambar di atas, harian The Guardian menggunakan kalimat "Militan Rohingya”.

Sumber-sumber berita sejatinya menyuntikkan pesan ke alam bawah sadar bahwa umat muslim Myanmar dengan memulai bentrokan, telah menyerang pasukan keamanan.

Judul Berita Reuters

Kesinambungan Genosida Senyap di Myanmar dengan Label Anti-Terorisme (Bagian 1)

Dengan serangan besar-besaran para pemberontak Rohingya, setidaknya 71 orang meninggal di Myanmar

Berita Reutres juga memublikasikan statistik orang-orang yang tewas dengan pendekatan serupa dengan The Guardian, dan dengan menggunakan kata Para pemberontak Rohingya.

http://iqna.ir/fa/news/3636208

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\