IQNA

Spesifik IQNA:
16:00 - November 12, 2019
Berita ID: 3473592
IRAN (IQNA) - Ketua Dewan Tinggi Majma Jahani Mazahib Islam dengan menekankan bahwa perlawanan terhadap rencana kolonial musuh-musuh umat Islam membutuhkan persatuan dan praktik perintah Alquran, menegaskan fanatisme para ulama dan orang-orang mengaku berilmu merupakan hambatan terpenting persatuan muslim.

Menurut laporan IQNA, Ayatollah Sheikh Mohammad Ali Taskiri Zadeh, lahir 19 Oktober 1944 di Najaf, seorang ulama Syiah Iran, perwakilan Tehran dalam majelis khobergan kelima Rahbar, Ketua Dewan Tinggi Majma Jahani Mazahib Islam dan Penasihat Tinggi Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam. Dia juga mantan Sekretaris Jenderal majma jahani taqrib mazahib Islam dan mantan anggota Provinsi Gilan dalam periode ketiga majelis khubregan Rahbar.

Untuk lebih lanjut mengenal tentang dia, bertepatan dengan Pekan Persatuan dan hari kelahiran Nabi Muhammad (saw), kami bertamu di kantornya di Majma Jahani Mazahib Islam. Kami membahas kegiatannya di luar negeri, peran Al-Azhar dalam pendekatan mazhab-mazhab Islam, dan hambatan bagi persatuan Muslim. Percakapan ini adalah sebagai berikut:

IQNA: Apa pendapat Anda tentang Al-Azhar dan aktivitas taqrib (pendekatan)nya?

Al-Azhar sejak awal diciptakan dengan tujuan dan motivasi pendekatan, dan Dinasti Fatimiyah yang memerintah Mesir mendirikan pusat tersebut dan mengajarkan ajaran semua lima mazhab Islam (Syiah, Syafi'i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali), sekitar sampai tahun 1940 Masehi, Al-Azhar memegang bendera pendekatan dan memulai sebuah gerakan yang sukses pada tahun-tahun ini, yaitu para ulama Al-Azhar, bekerja sama dengan para ulama Qom, menciptakan Darut Taqrib baina Mazahib dan melakukan aktivitas-aktivitas pendekatan yang baik. Majalah Risalat al-Islam Al-Azhar dan pengajaran fikih Imami (Syiah) di Al-Azhar adalah di antara hasil penciptaan Darut Taqrib.

IQNA: Bagaimanakah nasib Darut Taqrib Al-Azhar?

Dari 1940 hingga awal 1970-an, dengan meninggalnya para tetua Al-Azhar dan pemuka Syiah di Najaf dan Qom, kegiatan Darut Taqrib mulai redup dan setelah Revolusi Islam Iran dan akhirnya perang Irak-Iran, Rahbar menghidupkan kembali Darut Taqrib Islami; namun sebagai ganti Darut Taqrib, Rahbar mendirikan Majma Jahni Taqrib Mazahib Islam, dengan tujuan yang sama dengan Darut Taqrib Kairo. Kami mencoba menghidupkan kembali majma taqrib Kairo sebelum menghidupkan majma jahani, tetapi kami gagal.

Menurut Anda, apa hambatan paling penting bagi persatuan umat Islam di era sekarang?

Ada banyak hal untuk dibicarakan, tetapi satu kesimpulan dapat dikatakan bahwa hambatan terbesar untuk taqrib mazahib adalah fanatisme, fanatisme beberapa ulama atau yang dianggap memiliki ilmu pengetahuan, dan fanatisme ini memaksa beberapa orang untuk mengkafirkan sebagian yang lain dan memfasikkan dan menuduh bid’ah lainnya.

Hambatan Terpenting yang Dihadapi Persatuan dalam Perspektif Ayatullah Taskhiri/ Kami Siap Bekerjasama dengan Al-Azhar

Faktor lain anti-pendekatan lainnya adalah ketidaktahuan dan kebodohan; kebodohan beberapa Muslim akan hakikat mazhab-mazhab lainnya., yang mana jika disimpulkan dan mencapai pemahaman, mereka mungkin akan mengerti bahwa persamaan-persamaan yang ada mungkin mencapai 90%, tetapi ketidaktahuan itu memiliki efek dan masing-masing menuduh yang lain, dan hal ini telah mencegah persatuan.

Faktor lain yang menghalangi persatuan adalah kepentingan pribadi pemerintah dominan di dunia Muslim. Mereka mengatakan, persatuan umat Islam bertentangan dengan kepentingan pribadi mereka. Bergitu juga tujuan-tujuan arogansi global dan musuh-musuh Islam bertentangan dengan masalah persatuan dan pendekatan dan mereka mencoba merintangi pendekatan dan tidak terjalin saling memahami di antara umat muslim dan perpecahan ini, baik mazhabi, telah menciptakan politik dan geografis serta merealisasikan tujuan kolonial.

 

https://iqna.ir/fa/news/3856095

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\