IQNA

Pengenalan Allah dalam Lisan Nabi Ibrahim

14:28 - May 21, 2023
Berita ID: 3478402
TEHERAN (IQNA) - Nabi Ibrahim, ketika menghadapi orang-orang musyrik, pertama-tama menyatakan kesalahan mereka dan kemudian mencerahkan dan memperkenalkan kriteria-kriteria Tuhan.

Nabi Ibrahim melakukan dua tindakan ketika menghadapi kaumnya yang musyrik. Pertama, dengan memberikan contoh dan mengajukan pertanyaan, ia berusaha membuat mereka menyadari kesalahannya. Salah satu kesalahan yang dia tunjukkan adalah bahwa mereka memilih sesembahan mereka berdasarkan ikut-ikutan.

Di sini Nabi Ibrahim berbicara tentang cinta dan permusuhan dan menyatakan bahwa Tuhan harus dicintai oleh Anda dan Anda harus dicintai oleh-Nya. Tuhan harus mencintai dan dicintai oleh pemujanya. Hubungan ini ada dalam Alquran: "Yuhibbuhum wa Yuhibbunahu". Ketika Ibrahim sedang mencari Tuhannya, dia terus berkata: "Inni La Uhibbul Afilin/ Aku tidak suka kepada yang terbenam". Oleh karena itu, hubungan antara penyembah dan Tuhan haruslah hubungan cinta.

Di sini, Ibrahim mulai menjelaskan Tuhannya dengan cara yang sederhana kepada para pendengar, dan mengatakan bahwa Tuhan semesta alam memiliki sifat-sifat sederhana yang diakui oleh setiap pendengar.

Pertama, Dia menciptakan saya: "Yaitu (Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku".  Kita semua tidak ada dan diciptakan. Siapa yang menciptakan kita? Tuhanlah yang menciptakan kita dan membimbing kita. Artinya penciptaan saya tidak sia-sia dan berdasarkan maksud dan tujuan, maka saya dibimbing menuju tujuan tersebut. Bisakah para pendengar mengatakan bahwa berhala-berhala inilah yang membimbing kita? Mereka tidak bisa.

Kriteria kedua adalah bahwa Tuhan memberi makan  dan memberi saya minum: "dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku." Benar bahwa saya memasukkan makanan ke dalam mulut dengan tangan saya, tetapi ketika saya makan, kekuatan apa yang mengenyangkan saya? Ciri ketiga adalah jika saya sakit, Tuhan akan menyembuhkan saya: “Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku”. Semua cara pengobatan lainnya adalah alat dan sarana, tetapi kesembuhan ada di tangan Tuhan. Kriteria keempat adalah ketika saya mati, Tuhan menghidupkan saya kembali: “Dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali)”. Di sinilah Ibrahim menanam dasar tauhid dan hari kebangkitan. Ini adalah hal-hal yang tidak dapat mereka klaim untuk dilakukan oleh berhala yang tidak bernyawa. Kriteria terakhir adalah saya membuat kesalahan, tetapi saya memohon kepada Allah untuk mengampuni dosa-dosa saya dan menyertakan saya dalam pengampunan-Nya: “dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”.

Ibrahim mulai berdoa di sini untuk mengajari kami cara berdoa. Pertama, kita harus memuji Allah dan menyebutkan sifat-sifat yang terpuji Allah swt. Doa Nabi Ibrahim yang pertama adalah:

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“(Ibrahim berdoa): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh”. (QS. Asy-Syu’ara: 83) Inilah hikmah yang diminta Nabi Ibrahim baik untuk dirinya maupun keturunannya. Ibrahim meminta Allah agar memberinya hikmah. Hadiah adalah pemberian gratis dan kepemilikan gratis. Hikmah ini adalah kebijaksanaan ilahi. Hikmah Socrates dan Plato diperoleh melalui pelajaran dan diskusi, tetapi hikmah ini adalah hikmah ilahi. (HRY)

captcha