Menurut IQNA, kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
SAYA selalu terpukau oleh orang yang memulai sesuatu dari angka nol. Bukan dari satu. Apalagi dari fasilitas warisan.Membangun pesantren dari bawah, di tengah persaingan zaman digital, itu seperti mendaki Everest tanpa tabung oksigen. Sulit. Berdarah-darah. Tapi KH Imam Jazuli—yang akrab dipanggil Kiai Imjaz—membuktikan itu bukan kemustahilan. Dalam 13 tahun santrinya lebih dari 5000, lahan pesantren 92 Hektar dan alumninya 70% beasiswa kampus top dunia dan 30% sisanya diterima di PTN.
Lewat Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), ia tidak hanya mendirikan bangunan fisik, tapi sedang meruntuhkan tembok stagnasi tradisi. Sebab itu, ia sangat layak menyandang gelar Tokoh Transformatif Pesantren. Kenapa? Setidaknya ada beberapa alasan.
Pertama, radikalisme kurikulum: Keluar dari Zona Nyaman, banyak orang terjebak romantisasi masa lalu. Kiai Imjaz tidak. Di BIMA, ia melakukan gebrakan luar biasa. Ia menyadari dunia berubah secepat kedipan mata. Kurikulum, visi, dan misi pesantren dirombak total. Mengapa? Karena tuntutan zaman tidak bisa dilawan dengan sekadar meratap.
Santri hari ini tidak boleh hanya fasih membaca kitab kuning. Mereka harus menguasai teknologi, paham komunikasi global, dan mandiri secara ekonomi. Kiai Imjaz memadukan keikhlasan pesantren dengan profesionalisme modern. Ini bukan sekadar kompromi, ini adalah revolusi dari dalam.
Kedua, bukan egoisme, tapi gerakan massal: Banyak kiai hebat di Indonesia. Pesantrennya maju, santrinya puluhan ribu. Tapi kehebatan itu sering kali berhenti di pagar pesantrennya sendiri. Mereka maju sendirian. Kiai Imjaz berbeda. Sifat aslinya keluar di sini: ia tidak ingin maju sendiri. Ia tidak ingin selamat sendiri menghadapi ombak zaman.
Sejak tahun 2024, ia memulai langkah gila. Mengadakan workshop gratis untuk para pengasuh pesantren. Gerakan ini konsisten menggelinding. Sampai tahun 2026 ini, angkanya hampir menyentuh 5.000 pengasuh pesantren yang sudah ikut.
Semua itu dibiayai sendiri dari A-Z, tanpa ada sponsor dan mitra. Kiai Imjaz membuat modul dan memberi materi sekitar 14 jam non stop. Bayangkan dampaknya. Satu pengasuh membawa pulang virus transformasi ke daerahnya. Jika ada 5.000 pengasuh, maka ada 5.000 episentrum perubahan baru di seluruh penjuru negeri. Ini bukan lagi sekadar program kerja, ini adalah gerakan nasional pembaharuan berbasis kultural.
Ketiga, ia prototipe Pemimpin masa depan NU. Nahdlatul Ulama (NU) adalah kapal tanker yang sangat besar. Untuk menggerakkannya, butuh nakhoda yang punya otot keberanian dan otak inovasi.Karakter Kiai Imjaz adalah cetak biru pemimpin masa depan NU.
Ia memiliki akar tradisi yang kuat, namun kepalanya mendongak menatap masa depan. Ia tidak alergi pada perubahan, justru ia yang mendikte perubahan itu. Pemimpin NU masa depan tidak boleh lagi hanya sibuk dengan urusan domestik organisasi, melainkan harus menjadi arsitek sosial yang mampu mengubah wajah pendidikan umat secara massal.
Kiai Imjaz telah menyalakan lilinnya dari Cirebon. Kini, lilin-lilin itu telah menyebar ke ribuan pesantren lain. Pesantren tidak lagi menjadi tempat pelarian, melainkan menjadi pabrik masa depan. Begitulah seharusnya transformasi bekerja. Tidak berisik di media, tapi berdampak nyata di dunia nyata.
Di balik setiap lompatan besar, selalu ada keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Kiai Imjaz paham betul risiko itu. Ketika tradisi ratusan tahun disandingkan dengan inovasi modern, skeptisisme tentu berdatangan. Namun, ia memilih terus bergerak, membungkam keraguan dengan hasil kerja nyata.
Ia mengajarkan satu pelajaran krusial: keikhlasan tidak pernah berseteru dengan profesionalisme. Keduanya adalah sepasang sayap. Tanpa keikhlasan, sebuah gerakan akan kehilangan roh. Tanpa profesionalisme, niat mulia hanya akan berakhir menjadi impian yang lumpuh.
Dampaknya kini menjalar langsung ke dalam jiwa para santri. Mereka tak lagi memandang kemajuan zaman dengan rasa minder atau asing. Dengan kedalaman spiritual di dada dan penguasaan teknologi di jemari, para santri kini melangkah percaya diri menantang dunia.
Ini adalah narasi baru pendidikan Islam yang sudah lama kita rindukan. Sebuah pembaharuan yang tidak membebankan harapan pada janji manis pejabat, melainkan merajut kekuatan mandiri secara nyata dari akar rumput.
Perjalanan Kiai Imjaz adalah pengingat bahwa masa depan tidak ditunggu, melainkan diciptakan. Dari Cirebon, sebuah kompas baru telah diarahkan. Dan di tangan para pembaharu seperti dialah, wajah peradaban pesantren Indonesia sedang dilukis ulang. Wallahu'alam.
Sumber: cahaya.kompas.com