
Ketika salah seorang Yahudi melihat persatuan kaum Muslimin di Madinah, khususnya dua suku (Aus dan Khazraj), ia merencanakan dan mengirim sekelompok orang untuk memprovokasi mereka dengan mengungkit-ungkit peristiwa masa lalu. Rasulullah (saw) menyerukan perdamaian, memperingatkan mereka, dan memberitahukan tentang konspirasi musuh. Ayat 98-100 surah Al-Imran diturunkan dalam hal ini.
Allah swt telah berfirman dalam Alquran surah Ali Imran ayat 100:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti segolongan dari orang yang diberi Alkitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang-orang kafir setelah beriman”.
Yang dimaksud dengan “segolongan” adalah sekelompok orang Yahudi. Kufur setelah beriman juga menjelaskan bagaimana umat Muslim menjadi kafir atas hasutan orang-orang Yahudi. Ada kemungkinan bahwa kekafiran merujuk pada permusuhan yang sama seperti pada masa pra-Islam; karena iman adalah sumber kasih sayang dan persaudaraan, dan kekafiran adalah sumber perpecahan dan permusuhan.
Sesungguhnya, ayat ini memperingatkan umat Islam bahwa jika mereka terpengaruh oleh kata-kata beracun musuh dan menyerah pada godaan mereka, tidak akan lama sebelum iman mereka hancur dan mereka akan kembali kepada kekafiran; karena musuh pertama-tama mencoba menyulut api permusuhan di antara mereka dan mengadu domba mereka, dan terus menerus menggoda mereka sampai ia benar-benar menjauhkan mereka dari Islam.
Pada ayat selanjutnya, Allah swt berfirman:
وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَ أَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَ فِيكُمْ رَسُولُهُ
“Bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad) pun berada di tengah-tengah kamu?” Artinya, ketika Nabi (saw) membacakan ayat-ayat kepada kamu, dengarkanlah dengan seksama dan renungkanlah, dan jika kamu tidak mampu, rujuklah kepada Rasul (saw). Bertindak berdasarkan ayat ini di zaman kita berarti berpegang teguh pada ayat-ayat Allah dan merujuk pada Sunnah Nabi (saw) untuk membantah keraguan yang telah ditanamkan oleh orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, umat Islam di seluruh dunia harus berhati-hati dalam menentukan pihak mana yang mereka dukung dalam pertempuran antara Iran dan rezim Zionis-Amerika. (HRY)