Menurut Iqna mengutip Foreign Policy In Focus, Piala Dunia FIFA 2026 telah menjadi platform penting untuk menyatakan solidaritas dengan perjuangan Palestina, meskipun tidak ada tim nasional Palestina dalam turnamen tersebut dan di tengah apa yang digambarkan oleh para pengamat sebagai peningkatan penindakan terhadap protes dan ekspresi solidaritas dengan Palestina di beberapa negara.
Penulis Amerika, David Vine, berpendapat dalam sebuah artikel bahwa dukungan yang ditunjukkan kepada Palestina selama turnamen tersebut merupakan salah satu momen paling menginspirasi dalam sejarahnya, terutama karena terjadi ketika perang di Jalur Gaza terus mendominasi opini publik global. Vine mencatat bahwa para penggemar, pemain, dan pelatih dari berbagai negara, termasuk Mesir, Skotlandia, Brasil, Korea Selatan, Maroko, Meksiko, Turki, Norwegia, Senegal, Bosnia dan Herzegovina, Aljazair, dan Spanyol, secara terbuka menyatakan dukungan mereka kepada Palestina dan menekankan hak mereka untuk hidup, kebebasan, dan kembali.
Menurut penulis artikel ini, wujud solidaritas tersebut meluas dari para penggemar hingga ke stadion itu sendiri, di mana bendera Palestina dikibarkan di tribun dan dibawa oleh para pemain dan pelatih sepanjang pertandingan. Teriakan "Palestina Merdeka" bergema di dalam stadion dan di jalan-jalan sekitarnya, sementara ribuan penggemar mengenakan jersey tim nasional Palestina.
Selain itu, beberapa penonton memegang spanduk bertuliskan “Usir Israel dari FIFA” dan “Kartu Merah untuk Israel.”
Artikel ini juga membahas pemberian “hadiah perdamaian” simbolis oleh presiden FIFA kepada Trump tak lama sebelum AS bergabung dengan Israel dalam perang melawan Iran, perang yang digambarkan penulis sebagai ilegal dan tercela secara historis.
Penulis mengutip jurnalis Palestina Dina al-Kurd yang mengatakan bahwa acara olahraga saja tidak dapat mengakhiri penderitaan Palestina. Ia menjelaskan bahwa keluarga-keluarga Palestina tidak akan mendapatkan kembali rumah mereka hanya karena beberapa orang mengibarkan bendera di stadion. Namun, ia percaya bahwa gerakan-gerakan populer dibangun dari waktu ke waktu melalui ekspresi publik, akumulasi tekanan, dan desakan untuk menjaga isu tersebut tetap hidup dalam kesadaran global dan mencegahnya dari penghapusan.
Penulis juga menyoroti sikap Hossam Hassan, pelatih kepala tim nasional Mesir, dan menggambarkannya sebagai salah satu tokoh olahraga yang paling berani dan konsisten dalam menyatakan solidaritas dengan rakyat Palestina. (HRY)