Iqna cabang Balkan melaporkan, bahwa setiap harinya sejumlah muslim pecinta Al Quran duduk melingkar untuk melaksanakan wasiat Al Marhum Qadhi Khusru Beik yaitu mengkhatamkan Al Quran, minimalnya satu kali khatam.
Berita ini menunjukkan akan tradisi lama yang telah berumur lebih dari 350 tahun dan terus berlangsung hingga saat ini. bahkan dalam suasana perang yang terjadi selama 4 tahun dari tahu 1992 hingga 1996 muslimin Bosnia tetap menjaga dan melestarikan Sunnah yang baik ini dan menjalankan pengkhataman Al Quran tersebut dengan cara sembunyi-sembunyi dan satu sama lain berhubungan dengan telphon.
Disebutkan pula, bahwa Qadhi Khusru Beik membangun pusat Khanqah ini dalam rangka mendirikan sebuah sekolah khusus para Darwisy. di saat ia memulai penmbangunannya di Sarajevo hanya ada tingga tempat buat mereka. yaitu yang terkenal dengan nama Takiyyeh Isa, Iskandar Pasyina dan Tuna Didina. pada awalnya bangunan Khanqah dengan bangunan mesjid terbesar di Sarajevo dipisahkan oleh sebuah jalan. bangunan tersebut saat ini memiliki 14 kamar dan dibangun dengan arsitek yang unik dan satu-satunya di Sarajevo.
sesuai dengan arsip yang ada, Khanqah tersebut dibangun pada tahun 1756 dan pada tahu 1779 dilalap api karenanya direnovasi kembali dan pada tahun 1832 terkena kebakaran untuk ke dua kalinya.
Di dalam wasiatnya si pemberi wakaf juga menyebutkan tentang kriteria orang yang berhak untuk menjadi Syeik di tempat tersebut; yaitu yang terkenal dengan prilaku jujur, takwa, dan mengenakan pakaian rohani dan takwa. di dalam praktek kesehariannya ia haruslah orang yang berpegang teguh pada syariat, selalu menghadiri shalat jamaah, berpuasa, selalu berzikir dan membaca Al Quran. pada saat yang sama haruslah orang yang menahan keinginan hawa serta segala sepak terjangnya sesuai dengan kedudukan para darwisy sehingga daat memberikan bimbingan yang efektif kepada masyarakat.