Iqna: Yunus Nurbakhs, Ketua Pusat Internasional Telaah Agama menyampaikan hal itu pada sambutannya di saat acara pembukaan dan peresmian lembaga ini.
pada kesempatan itu Nurbakhs juga mengucapkan selamat memperingati pekan guru dan menegaskan, bahwa saat ini kita hidup di dunia yang segala sesuatu terkait satu dengan lainnya. karena itulah lembaga yang dikelolanya merasakan perlunya ditingkatkan hubungan dengan pemeluk berbagai agama sehingga dapat melakukan penelitian pengaruh agama pada kehidupan di masa yang lalu, kini dan mendatang.
Menurutnya, abad 17 adalah abad kebangkitan untuk memperjuangkan kerakyatan atas kerajaan, abad 19 adalah abad kebangsaan sedangkan abad 20 adalah abad ideologi dan abad 21 adalah abad lahirnya kembali agama bagi kehidupan dunia.
Nurbakhs melanjutkan, bahwa berakhirnya perang dingin menyebabkan, tidak ada lagi ideologi lain yang bertahan, karena itu agama adalah sebuah alternatif yang harus mendapatkan perhatian serius. walaupun pada saat yang sama menurut sebagian pihak merupakan ancaman yang harus ditinggalkan, karenanya diperlukan kewaspadaan para pengemban amanah agama.
Sementara itu Gholam Ali Haddad Adil Alawi berpendapat, bahwa diantara hal penting yang harus diperjuangkan adalah seling mengenal kebudayaan yang berbeda-beda sehingga lahirlah kesepahaman dan dialog antar agama dan kebudayaan yang beragam.
Langkah itu menurut mantan Ketua Parlemen RII ini adalah langkah yang sangat penting untuk menjalin persahabatan. selama tidak ada hubungan dan upaya saling mengenal, maka jangan diharap akan terjadi saling memahami dan keharmonisan antar berbagai budaya dan agama.
Haddah Adil berpendapat, bahwa abad 19 adalah abad anti agama dan spiritualitas, karena para ilmuan memiliki asumsi, bahwa ilmu pengetahuan bisa mengganti posisi agama dalam hal
membahagiakan manusia. namun mereka pun akhirnya menyadari kesalahan asumsi tersebut.
Karenanya agama adalah sebuah keniscayaan yang dibutuhkan oleh setiap negara dan pemerintah demi memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. tanpa agama, maka dunia tidak akan bisa dieksploitasi secara benar demi kemaslahatan masyarakat, tegasnya.
Walaupun juga harus disadari, bahwa atas nama agama saja tanpa memberikan ruang pada aspirasi masyarakat maka yang muncul adalah kediktatoran, tambahnya.
Said Ridha Amili, Ketua Fakultas Kajian Agama dan Dunia menegaskan, bahwa agama adalah faktor penting untuk menyelesaikan berbagai problem dunia, sebab kita tahu, bahwa perang dan damai adalah masalah yang paling krusial masyarakat dunia dan keduanya harus dilihat dari pandangan agama.
Hari ini kita menyaksikan, bahwa dunia mengarah ke globalisasi dan ayat-ayat Al Quran pun kita dapati menyebutkan, bahwa Al Quran adalah kitab yang lintas masa dan georafis sebagaimana lintas suku dan etnis, tegasnya.
Ini adalah sebuah faktor nyata peran agama yang akan semakin luas dalam kehidupan masayarakat dunia dan dari sini pula kita memahami rahasia islamfobia yang terjadi pada sebagian orang di barat, tambahnya.
Namun walaupun demikian hubungan antara pemeluk agama dan kebudayaan yang beragam harus terus dibangun dan ditingkatkan, akunya.
400326