IQNA

Wawancara IQNA dengan Pengajar Universitas London:
12:10 - January 11, 2016
Berita ID: 3470060
LONDON (IQNA) - Shabbir Hassanali mengatakan, persidangan Syaikh Nimr menurut perspektif lembaga dan para pengamat HAM adalah pengadilan formal dan seremonial, yang telah mengorbankan kebenaran dan keadilan demi kepentingan organisasi Āl Saud.

Menurut laporan IQNA, pelaksanaan hukuman eksekusi Syaikh Nimr oleh rezim Saudi telah menuai protes masyarakat di seluruh penjuru dunia dan mendapat kecaman internasional; seperti organisasi amnesti internasional, dimana dengan mengecam aksi tersebut, juga menyebut tidak adil atas persidangan Syaikh Nimr dan eksekusinya adalah benar-benar politik belaka.

IQNA saat wawancara dengan Shabbri Hassanali, aktivis HAM dan pengajar universitas kota London telah mengeluarkan pendapatnya terkait aksi rezim Saudi dalam mensyahidkan Syaikh Nimr, dan pendapatnya adalah sebagai berikut:

"Aksi rezim Saudi dalam mengeksekusi Syaikh Nimr Baqir al-Nimr sangatlah lalim dan tidak adil. Syaikh Nimr dikenal dengan penentangannya terhadap pemerintah Saudi dan tuntutannya untuk perbaikan sipil dan politik, dimana Saudi secara pasti membutuhkannya.

Pengadilan Syaikh Nimr menurut perspektif lembaga dan para pengamat HAM tak lain adalah sebuah pengadilan formal dan seremonial, yang telah mengorbankan kebenaran dan keadilan untuk kepentingan organisasi Āl Saud.

Eksekusi Syaikh Nimr; Bunuh Diri Politik Āl Saud

Syaikh Nimr gugur dalam membela perdamaian, demokrasi dan HAM. Namun nilai-nilai kemanusiaan ini merupakan ancaman besar bagi keluarga kerajaan Saudi; karena pendirian nilai-nilai ini di Saudi tak ubahnya akhir pemerintahan Saudi atas negara tersebut.

Para pejabat Saudi banyak melakukan kesalahan-kesalahan strategis. banyak sekali para pakar meyakini bahwa eksekusi Syaikh Nimr adalah sebagai sebuah politik bunuh diri bagi pemerintah Āl Saud. Aksi rezim Saudi ini, laksana senjata yang diarahkan pada dirinya dan kemudian menarik pelatuknya.

Sampai saat ini, kita tidak pernah mendengar kecuali hanya dalam beberapa negara terbatas saja, yaitu seseorang atau sekelompok pejabat Saudi sebagai orang yang bertanggung jawab, karena serangan militer ke Yaman dan pengeboman atas negara ini, dukungan kepada ISIS dan demikian juga penjajahan beberapa tahun Bahrain. Saudi dengan ketidaksabarannya telah melanjutkan aksi-aksi di luar tradisi internasional, meskipun ada rintangan di depan jalannya.

Kenapa Saudi dengan adanya penjualan 12 juta barel minyak setiap harinya mengalami defisit anggaran 100 milyar Dollar? Jawaban pertanyaan ini sangatlah sederhana. Karena pemasukan minyak ini diberikan untuk para teroris yang dianggarkan untuk membunuh banyak manusia dan Syaikh Nimr juga menjadi salah satu korban cerita yang memilukan ini”.

http://iqna.ir/fa/news/3465263


Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\