
Menurut laporan IQNA, seperti dikutip dari CAIR, Ibrahim Hooper, Jubir Dewan Komunikasi Islam - Amerika, yang termasuk organisasi terbesar pembela hak-hak sipil muslim Amerika mengatakan, para wanita muslimah harus dapat membela dirinya di masyarakat.
Menurut Hooper, serangan terhadap muslim di Amerika pada bulan-bulan terakhir telah meningkat tiga kali lipat dan 80% korban serangan tersebut adalah para wanita.
"Sejak insiden teroris terbaru di Paris dan juga kota San Bernardino, California yang dilakukan oleh kelompok teroris ISIS, kriminal-kriminal yang muncul dari fanatisme terhadap kaum muslimin terus semakin meningkat,” imbuhnya.
Hooper mengatakan, setelah itu juga dengan statemen-statemen anti Islam Donald Trump, kandidat partai Republik dalam pemilu mendatang Amerika dan rekomendasinya yang mendasarkan pelarangan masuknya kaum muslimin ke tanah Amerika, telah memperparah kondisi.
"Ada Islamofobia pasca insiden 11 September, namun tidaklah terlalu besar dan terpinggirkan. Saat ini dengan curahan Donald Trump, Ben Carson dan lainnya, Islamofobia secara kasar dan stabil muncul dalam wacana masyarakat dan mereka yang menyerang kaum muslimin menganggap dirinya sedang melakukan kewajiban terhadap negara,” lanjutnya.
Kelompok pendukung hak-hak muslim dengan nama Bridge juga mengatakan, statistik polisi Amerika menunjukkan bahwa komunitas muslim negara saat ini telah mendapatkan serangan lima kali lipat pasca insiden 11 September, yang muncul akibat kebencian.
Karenanya, para wanita muslim Amerika mulai mempelajari seni bela diri supaya dapat hadir di tengah-tengah masyarakat dan akan dapat membela dirinya di hadapan serangan Islamofobia saat diperlukan.
Engy Abdelkader, wakil kelompok Bridge mengatakan, masalah yang dirasakan oleh para wanita muslim ini sehingga memaksa mereka untuk belajar membela dirinya sangatlah meresahkan.