IQNA

7:56 - May 26, 2022
Berita ID: 3476872
TEHERAN (IQNA) - Terkadang timbul pertanyaan bagaimana pandangan Islam tentang kemiskinan dan kekayaan menurut ayat-ayat Alquran tentang kemiskinan dan kekayaan, dan mana yang dianggap berharga. Tetapi dengan mempelajari teks-teks Islam, menjadi jelas bahwa jawaban atas pertanyaan ini tidak sesederhana itu.

Ketika mengacu pada teks-teks Islam, menjadi jelas bahwa tidak mungkin untuk menghadirkan pembacaan terpadu tentang pandangan "kemiskinan", "kekayaan", dll.

Jika kita ingin memiliki laporan minimal dari sudut pandang teks-teks Islam dengan apa yang disebut konsep ekonomi ini, tampaknya secara global ada lima jenis sikap terhadap hal tersebut:

  1. Dimana kemiskinan dipuji. Nabi bersabda, “Al-Faqru Fakhri; kefakiran adalah kebangganku." Dikatakan juga bahwa pada hari kiamat, orang miskin akan menjadi kelompok pertama yang masuk surga atau beberapa riwayat lainnya.
  2. Sikap negatif terhadap kemiskinan. “Kada al-Faqru an Yakuna Kufran; kemiskinan mendorong orang berbuat kafir”.
  3. Terdapat juga penjelasan tentang kekayaan dan pujian terhadap pengembangan kekayaan untuk keluarga.
  4. Terdapat penjelasan yang melarang kekayaan, seperti ayat Kanzu:

«یا أَیهَا الَّذِینَ آمَنُوا إِنَّ کثِیرً‌ا مِّنَ الْأَحْبَارِ‌ وَالرُّ‌هْبَانِ لَیأْکلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَیصُدُّونَ عَن سَبِیلِ اللَّهِ وَالَّذِینَ یکنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا ینفِقُونَهَا فِی سَبِیلِ اللَّهِ فَبَشِّرْ‌هُم بِعَذَابٍ أَلِیمٍ»

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”. (QS. At-Taubah: 34)

  1. Kami memiliki keterangan lain tentang "Kafaf/rezeki yang mencukupi" yang kurang mendapat perhatian. Kafaf sebenarnya adalah kondisi antara miskin dan kaya, di mana manusia tidak kekurangan atau kelebihan. Seseorang mengkonsumsi sebanyak yang telah dia hasilkan; Kondisi ini sangat dipuji dan dikatakan bahwa para hamba khusus Allah berada dalam kondisi ini.

* Diambil dari catatan Seyed Mohammad Hadi Gerami, Anggota fakultas Lembaga Penelitian Humaniora dan Studi Budaya tentang ide-ide ekonomi Islam

 

Kata kunci: Islam, kemiskinan, kekayaan, Nilai

 

4055336

Kunci-kunci: Kemiskinan ، Kekayaan ، Islam ، Nilai
Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha: