IQNA

6:38 - May 28, 2022
Berita ID: 3476878
TEHERAN (IQNA) - Metode umum Imam Shadiq (as) dalam menafsirkan Alquran didasarkan pada analisis, istidlal dan ijtihad. Sejatinya, beliau tidak membuat daftar ajaran-ajaran Alquran, tetapi memaparkannya pada analisis murid-muridnya dan mengajari mereka bagaimana menggali Alquran dan mengambil manfaat dari kedalamannya.

Imam Shadiq (as) dalam menafsirkan Alquran mengatakan bahwa beliau telah menggunakan berbagai metode yang diperlukan dan tepat di setiap bagian. Imam syahid pada tanggal 25 Syawal tahun 148 H (765 M).

Salah satu tindakan terpenting Imam Shadiq (as) adalah menjelaskan, menafsirkan, dan mendeskripsikan hukum, riwayat, dan ayat-ayat Alquran. Tindakan ini dimulai dan dilanjutkan berdasarkan sebuah metode ilmiah. Beliau menggunakan pola Alquran dengan Alquran untuk menafsirkan Alquran. Dalam pola Alquran dengan Alquran, setiap ayat dianalisis berdasarkan ayat-ayat lain, yang dikenal sebagai tafsir Alquran dengan Alquran.

Metode lainnya adalah menafsirkan Alquran berdasarkan siroh Nabi Muhammad (saw) dan Ahlulbait (as), yang dianalisis berdasarkan biografi para Imam dan riwayat yang bersumber dari mereka.

Penafsiran bahasa dan leksikal Alquran adalah metode lain untuk menjelaskan Alquran. Dalam metode ini, kata-kata Alquran dipertimbangkan dan Alquran ditafsirkan berdasarkan hal tersebut.

Metode implementasi adalah metode lain dari Imam Shadiq (as) untuk menafsirkan Alquran; Metode ini berarti mengimplementasikan sebuah ayat dengan peristiwa, suku, dan berbagai gerakan. Sejatinya, konsep-konsep yang ada dalam Alquran harus menemukan contoh di dunia luar yang mana Imam Shadiq (as) mengetengahkan penafsiran penerapan konteks  (mishdaq) ayat-ayat tersebut.

Dalam metode sya’nun nuzul (sebab penurunan ayat), beliau juga membahas tentang peristiwa dan alasan turunnya ayat dan memiliki pandangan historis terhadap ayat. Selain itu, mengacu pada beberapa ayat, beliau juga mengupas berita-berita masa depan.

Metode umum Imam Shadiq (as) dalam menafsirkan Alquran didasarkan pada analisis, istidlal dan ijtihad. Sejatinya, beliau tidak membuat daftar ajaran-ajaran Alquran, tetapi memaparkannya pada analisis murid-muridnya dan mengajari mereka bagaimana menggali Alquran dan mengambil manfaat dari kedalamannya.

 

* Dikutip dari pidato Mohammad Reza Mohammadi Payam, pengajar hauzah dan universitas di situs IQNA

 

3975786

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha: