
Anehnya, semua media itu memilih menutup mata dan membisu ketika berhadapan dengan tradisi ziarah tahunan Arba’in Al-Husain yang juga sangat kolosal dan dilaksanakan oleh puluhan juta orang, bukan hanya dari kaum Muslim Syiah, melainkan juga Muslim Sunni dan bahkan penganut berbagai agama non-Muslim, terutama Kristen.
Ziarah Arba’in yang dilaksanakanf setiap tahun pada tanggal 20 Safar adalah peringatan peristiwa kembalinya tawanan Ahlul Bait Nabi saw dari Syam (Damaskus) serta ziarah mereka ke pusara syuhada Tragedi Asyura di Karbala yang terjadi pada tanggal 10 Asyura 61 Hijriah.
Dalam tradisi ziarah Arba’in, puluhan juta orang dari berbagai provinsi Irak dan bahkan dari pelbagai negara dan belahan dunia mengalir ke Karbala, dan hampir semuanya melakukan tradisi berjalan kaki sejauh 75 kilometer selama 2-3 hari.
Sebagian orang bahkan berjalan kaki hingga 100-500 kilometer dari berbagai penjuru arah Irak dalam jangka waktu hingga 20 hari sejak tanggal 1 Safar hingga 20 Safar. Mereka bergerak umumnya dengan berbondong-bondong dari berbagai wilayah Irak, yaitu tengah, selatan, Baghdad, Diyala, dan utara.
Dalam perjalanan itu, para peziarah dari luar negeri kemudian bergabung dengan para peziarah Irak. Peziarah asing ada yang masuk dari pintu perbatasan darat beberapa negara jiran, dan banyak pula yang datang melalui bandara udara.
Para peziarah dari dalam dan luar negeri itu membaur menjadi satu dan mengalir menuju kota suci Karbala sehingga tak pelak menghasilkan fenomena yang sangat langka di dunia, dan bisa jadi tak ada bandingannya di dunia, apalagi jika dilihat dari sisi kemanusiaan di mana ribuan posko dan puluhan ribu orang berlomba memberi layanan secara cuma-cuma dan gratis kepada para peziarah, mulai makanan, minuman, hingga penginapan, kesehatan, dan bahkan pijat dan sol sepatu.
Dalam tradisi keagamaan ini, bangsa Muslim Irak benar-benar telah menampilkan panorama menakjubkan di luar fantasi manusia berkenan dengan nilai-nilai kesetaraan, kedermawanan, pengorbanan dan kontra-ego.
Betapa tidak, dalam long march dan ziarah akbar itu siapapun dapat makan dan tidur serta menikmati berbagai layanan lain tanpa mengeluarkan uang sepeserpun selama berhari-hari. Sebab, di sana terdapat apa yang disebut mawkib atau kelompok-kelompok posko yang diadakan oleh penduduk Irak dan bahkan juga berbagai warga negara asing di sepanjang jalan menuju Karbala.
Uniknya lagi, kaum non-Muslim dengan berbagai suku, ras dan bangsa turut berpartisipasi dan menjadi bagian dari mawkib-mawkib itu sehingga tak pelak menjadi bukti nyata betapa Imam Husain as, cucunda Nabi Muhammad saw, adalah tokoh besar dan pejuang bukan hanya bagi mazhab dan agama tertentu, melainkan bagi nilai kemanusiaan nan universal.
Imam Husain as dan segelintir pengikut setianya telah berjuang dalam kesunyian melawan pasukan penguasa korup, diktator, penindas dan fasis dengan mengorbankan segenap harta, jiwa dan raganya, dan karena itu layaklah jika Imam Husain as as menjadi panutan bagi semua orang dengan semua agama, mazhab, aliran dan ras mereka.
Namun naif sekali, pemandangan menakjubkan inilah yang ternyata justru diabaikan oleh berbagai media dunia. Kalaupun mereka memberikan sebentuk liputan dan reportasi, mereka cenderung sangat mereduksi, dan bahkan mendistorsi serta mengesankannya sebagai tradisi sektarian.
Perlakuan demikian sulit digambarkan kecuali sebagai dekadensi media dan praktik terburuk dari apa yang disebut media blackout atau news blackout, istilah merujuk pada situasi di mana otoritas atau kekuatan tertentu memberlakukan sensor berita atau larangan mempublikasikan berita dengan topik tertentu. Media blackout adalah praktik yang dilakukan oleh penguasa arogan, entah lokal ataupun dunia, untuk mengkontrol informasi demi agenda-agenda politik tertentu.
Praktik dan perlakuan itu jelas menyalahi prinsip-prinsip yang seharusnya dijalankan oleh media, yaitu obyektivitas, netralitas, kebebasan, kesetaraan, dan keragaman. Dan itu dilakukan oleh berbagai kekuatan arogan dengan asumsi itu mereka dapat menutupi fenomena ajaib ziarah Arba’in serta keagungan dan efektivitas perjuangan Imam Husain ra.
Realitas itu merupakan bukti nyata bahwa banyak pihak merasa miris dan ketakutan menyaksikan betapa spirit perjuangan Imam Husain as terus membara dan mengancam kepentingan berbagai pihak yang arogan dan menindas, baik dalam skala lokal maupun regional dan global.
Sebagai aksi sensor berita, praktik sistematis yang sudah menahun itu hingga batas tertentu memang dapat menutup-nutupi kebesaran perjuangan Imam Al-Husain ra dan menahannya dari memberi efek dan gaung yang semestinya.
Namun demikian, sebuah fenomena dan ledakan besar tetap saja akan menemukan celahnya untuk memberikan gelombang kejut yang cukup kepada banyak orang. Karena itu, tradisi ziarah Arba’in terus meraksasa dari tahun ke tahuan. Tercatat bahwa sejak rezim diktator Saddam Hossein terguling pada tahun 2003, jumlah peziarah Arba’in telah membengkak secara mencengangkan dari sekira tiga juta menjadi sekira 25 juta orang pada tahun ini. Dan ini jelas pemandangan yang menyayat dan memilukan bagi para pembenci perjuangan Imam Husain ra. (HRY)
Sumber: iputanislam