IQNA

Siapakah Utusan Allah yang Paling Terakhir?

14:35 - September 15, 2023
Berita ID: 3478926
TEHERAN (IQNA) - Menurut bukti sejarah dan penjelasan Alquran, Muhammad (saw) adalah utusan Allah swt dan nabi Allah yang terakhir.

Alquran mengatakan dalam hal ini:

ما كان محمّد أبا أحدٍ من رجالكم و لكن رسول الله و خاتم النّبیّین

“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40).

Namun mengapa masalah kenabian berakhir pada Nabi Muhammad saw?

Saat mereka mengganti air di kolam karena sudah terkontaminasi. Ketika mereka memperbaiki dan merekonstruksi jalan, rumah, pakaian, dan mobil karena rusak, dan robek. Kebutuhan akan nabi baru juga terjadi ketika kitab nabi sebelumnya telah diputarbalikkan dan disembunyikan. Jika satu kata pun dalam Alquran tidak diubah dan tidak ada pertanyaan yang belum terjawab, maka tidak perlu ada nabi baru, tidak seperti kitab-kitab surgawi sebelumnya, yang jika Anda melihat Taurat dan Alkitab saat ini, Anda akan melihat banyak kata-kata yang tidak masuk akal dan berlawanan dengan intuisi sehingga Anda akan malu membacanya.

Sebaliknya, terkadang seorang yang buta huruf ingin pergi ke tempat yang jauh, tidak ada pilihan selain mencari alamat jalan demi jalan, namun jika orang lain yang melek huruf ingin melakukan perjalanan dengan cara yang sama, dan kita punya peta umum kota dan jalan-jalannya diberikan padanya, dia akan memilih jalannya sendiri.

Orang-orang dahulu yang masyarakatnya belum mencapai tingkat perkembangan, alamat jalan demi jalan diperlukan, tetapi ketika masyarakat mencapai pertumbuhan, jika mereka memberinya peta umum, dia akan menemukan jalannya dan tidak perlu kehadiran langsung dari pembimbing (para nabi). Tentu saja, keberadaan para imam dan ahli hukum yang maksum diperlukan untuk menjaga hukum dan pedoman.

Hal lain adalah bahwa para nabi sebelumnya (kecuali segelintir orang) biasanya tidak memiliki kitab, dan kebanyakan mereka menyebarkan perintah-perintah para nabi besar, dan tidak semuanya memiliki kitab. Oleh karena itu, meskipun sudah ada imam-imam maksum dan ulama-ulama Islam yang shaleh yang telah memikul tanggung jawab tersebut, namun tidak diperlukan adanya nabi yang datang, karena penyampaian perintah agama juga datang dari para ulama yang adil. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengabaikan masalah ijtihad karena para ahli hukum yang adil, yang mempunyai aturan-aturan umum agama, selalu dapat mengambil perintah-perintah Allah dari Alquran dan Hadis.

* Diambil dari buku “Ushul Aqaid Islamiyah (Kenabian)”, yang ditulis oleh Ayatullah Mohsen Qaraati

Kunci-kunci: Jumlah Nabi ، Iman kepada Nabi
captcha