
Menurut Iqna, dalam sebuah catatan yang diberikan kepada IQNA, sosiolog dan ahli agama Hujjatul Islam Alireza Qobadi telah membahas pengetahuan-pengetahuan di balik pertanyaan-pertanyaan Alquran dalam surah Al-Muddatstsir dengan tema “Pertanyaan dalam Alquran”, yang akan kita baca bersama di bawah ini.
Pertanyaan terakhir surah Al-Muddatstsir adalah seruan atau teguran dengan pernyataan berikut:
فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِينَ
“Lalu, mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?” (QS. Al-Muddatstsir: 49 dan 50). Mengingat kedudukan Alquran dalam hal peringatan dan nasihat, diharapkan setelah mendengar nasihat dan peringatan Alquran, orang-orang kafir atau musyrik akan memperhatikan, bukannya berpaling darinya dan menerima nasihat Alquran.
Penolakan yang mengejutkan atau layak ditegur, karena nasihat dan peringatan Alquran bukanlah peringatan atau pengingat yang tidak berdasar. Alquran juga mengatakan bahwa penyimpangan mereka bukanlah penyimpangan biasa. Dalam menggambarkan penyimpangan mereka, Alquran menggunakan ungkapan khusus yang menyiratkan kejutan, keheranan, atau teguran, dan mengatakan:
كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُسْتَنْفِرَةٌ
“seakan-akan mereka keledai liar yang terkejut”
فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ
“lari dari singa”.
Analogi dan metafora yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa jenis dan cara penolakan mereka terhadap Alquran juga merupakan sumber kejutan atau teguran. Kemudian Alquran menolak alasan mereka untuk tidak menerima nasihat dan harapan mereka yang tidak tepat terhadap Alquran, dan menunjukkan penyebab utama dan akar penolakan mereka terhadap nasihat, dengan mengatakan: Bahwa mereka tidak percaya pada akhirat, atau bahwa iman mereka tidak disertai dengan rasa takut akan akhirat.
Kami mengakhiri perkatan ini dengan menyampaikan salam kepada Imam al-Hadi (as):
السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا الْمُبَيِّنُ لِلْحَلالِ مِنَ الْحَرامِ، السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا الْوَلِيُّ النَّاصِحُ، السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا الطَّرِيقُ الْواضِحُ
Salam sejahtera atasmu, wahai orang yang menjelaskan apa yang halal dan apa yang haram. Salam sejahtera atasmu, wahai wali yang memberi nasihat. Salam sejahtera atasmu, wahai jalan yang terang. (HRY)