IQNA

Musuh Tidak Berhasil Memisahkan Rakyat dari Pemerintahan Islami

13:40 - March 24, 2010
Berita ID: 1899836
Imam Ali Khamenei: Berkat bantuan dan inayah Ilahi bangsa dan negara Iran akan meraih kemenangan dan kemajuan, sementara yang didapat oleh musuh hanya kegagalan dan kemunduran.
Iqna menukil dari situs resmi Pemimpin Spiritual tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, bahwa beliau di hari pertama musim semi dan tahun baru hijri syamsi Ahad (21/3) di depan ribuan peziarah Imam Ali Ridha (as) menjelaskan beberapa hal berkenaan dengan penamaan tahun ini dengan nama tahun ‘Keuletan dan Kinerja Berlipat'. Beliau menerangkan faktor-faktor dan keharusan yang mesti dilakukan di dekade ‘kemajuan dan keadilan'. Seraya menyinggung soal persatuan dan kekompakan rakyat Iran menghadapi konspirasi musuh dalam rangkaian peristiwa pasca pemilu presiden, beliau mengatakan, berkat bantuan dan inayah Ilahi bangsa dan negara Iran akan meraih kemenangan dan kemajuan, sementara yang didapat oleh musuh hanya kegagalan dan kemunduran.

Di awal pembicaraan, setelah mengucapkan selamat tahun baru hijri syamsi dan tibanya hari raya nouruz kepada rakyat Iran, Rahbar menegaskan bahwa pilar utama dan karakter sistem pemerintahan Republik Islam adalah keimanan kepada Allah dan ajaran para nabi. Seraya membawakan argumentasi dari beberapa ayat suci Al-Qur'an beliau menandaskan, "Keimanan kepada Allah dan mengamalkan ajaran Islam selain meningkatkan spiritualitas dan ketentraman jiwa, juga menjamin kebahagiaan duniawi dan materi umat manusia, dan membawa masyarakat manusia kepada kesejahteraan dan kemajuan. Karena itu, pemerintahan Islam berdiri di atas landasan dan parameter utama ini."

Mengenai penamaan tahun 1389 hijri syamsi dengan nama tahun ‘Keuletan dan Kinerja Berlipat', beliau mengatakan, "Slogan yang kita angkat setiap tahun bukan formalitas belaka dan memang slogan tidak bisa menyelesaikan semua masalah yang ada. Tetapi slogan itu diangkat sebagai penunjuk jalan. Demikian juga halnya slogan yang kita angkat tahun ini. Mengingat target dan cita-cita bangsa dan negara yang tinggi, diperlukan tekad dan keuletan yang lebih dan kinerja yang lebih besar dan lebih serius."

Tahun lalu, kata beliau, slogan yang kita angkat adalah perbaikan pola konsumsi. Namun untuk sampai kepada target yang diharapkan masih ada jarak yang jauh. Slogan itu harus tetap hidup, karena tanpa mengubah pola konsumsi, kesulitan yang ada tak pernah terselesaikan.

Pemimpin Besar Revolusi Islam mengurai lebih lanjut slogan tahun ini dan mengatakan, salah satu arena untuk mengamalkan slogan ini adalah bidang keilmuan dan riset. "Universitas dan pusat-pusat penelitian dalam bidang apapun hendaknya mencanangkan targetnya yang besar, lalu dengan tekad, keuletan dan kinerja yang berlipat ganda bergerak ke arah target yang membanggakan itu. Dengan demikian, pada beberapa dekade ke depan Iran akan menjelma menjadi pusat tumpuan keilmuan dunia," jelas beliau.

Beliau mengungkapkan bahwa dengan tekad berlipat dan kinerja ganda dalam memanfaatkan secara benar sarana yang ada kesejahteraan hidup masyarakat akan semakin meningkat. "Dari sisi ini nampak bahwa program subsidi terarah sangat penting," tambah beliau.

Ayatollah al-Udzma Khamenei lebih lanjut mengimbau seluruh lembaga negara, khususnya lembaga eksekutif dan legislatif untuk bekerjasama dalam memikul tugas ini. "Tugas melaksanakan tanggung jawab ini ada di pundak pemerintah. Karena itu semua lembaga negara termasuk parlemen sebagai lembaga legislatif harus membantu pemerintah. Di sisi lain, pemerintah juga harus menjalankan apa yang sudah menjadi undang-undang dan telah melalui semua proses konstitusional sehingga ditetapkan sebagai undang-undang. Dengan adanya solidaritas dan kerjasama antar lembaga negara, Allah swt akan melimpahkan bantuanNya kepada para pejabat negara," imbuh beliau.

Rahbar menambahkan bahwa slogan tahun ini juga meliputi upaya meningkatkan produksi dalam negeri untuk dapat bersaing dengan komoditi asing, memperhatikan masalah kesehatan dalam program kerja lima tahun mendatang, olahraga massal untuk menjamin kesehatan dan kebugaran umum sebagai persiapan melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dan meningkatkan investasi. Beliau mengimbau rakyat untuk tidak menghambur-hamburkan harta. "Mereka yang punya kelebihan harta jangan sampai israf dan menghambur-hamburkannya, tapi hendaknya harta itu digunakan untuk menciptakan pekerjaan dan investasi," imbau beliau.

Pemimpin Besar Revolusi Islam juga menekankan soal produksi pemikiran, peningkatan kegiatan membaca dan menambah pengetahuan. Semua itu termasuk dalam hal-hal yang perlu ditingkatkan.

Menyinggung pengentasan kemiskinan dan pemberantasan ketidakadilan, beliau mengingatkan bahwa hal itu harus diwujudkan dengan melipatgandakan tekad, keuletan dan kerja keras.

Ayatollah al-Udzma Khamenei lebih lanjut menyampaikan analisa tentang rangkaian peristiwa pasca pemilu kepresidenan di Iran. Beliau menyebut sikap rakyat antara 12 Juni 2009 (hari pelaksanaan pilpres) hingga pawai 11 Februari 2010 (pawai 31 tahun kemenangan revolusi Islam) sebagai manifetasi dari kematangan dan kecerdasan bangsa. Beliau mengatakan, partisipasi 40 juta rakyat dalam sebuah pemilu spektakuler dan historis dengan tingkat partisipasi di atas 80 persen adalah sebuah peristiwa besar yang sekaligus membuktikan dukungan rakyat kepada pemerintahan Islam ini. Semua orang bahkan mereka yang nampak berusaha menutup-nutupi fakta ini, mengakui meski telah berlalu 31 tahun dari kemenangan revolusi Islam, rakyat Iran tetap loyal kepada prinsip pemerintahan Islam.

Rahbar menegaskan bahwa keislaman dan kerakyatan adalah dua prinsip yang tak bisa dipisahkan dari pemerintahan ini. Menyinggung rangkaian peristiwa pasca pemilu beliau menandaskan, "Saya tidak menuduh siapapun juga. Tapi saya mengenal dengan baik cara kerja musuh kita. Opini umum rakyat dan para analis yang independen, obyektif dan cerdas dengan mencermati peristiwa itu akan berkesimpulan bahwa semua itu dirancang oleh anasir asing."

Modus semacam ini, tambah beliau, sudah sering dilakukan di negara-negara lain. Fakta menunjukkan bahwa ketika kaum arogan tidak menyukai pemerintahan di satu negara, mereka akan menantikan tibanya hari pelaksanaan pemilu. Jika kandidat yang mereka maukan kalah, mereka akan menghasut sekelompok orang agar turun ke jalan-jalan dan mengacaukan keadaan. Tujuannya adalah untuk mengubah hasil pemilu dengan cara paksa.

"Upaya mengubah hasil pemilu, melakukan aksi kekerasan dan huru hara berlawanan dengan syariat Islam dan melanggar hukum. Di sisi lain, kemenangan rakyat dalam rangkaian peristiwa ini mengandung banyak pelajaran yang sangat berharga," jelas beliau.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menerangkan agenda musuh yang berusaha mengadu domba di antara rakyat, namun berkat kesiagaan dan kecerdasan rakyat konspirasi itu berhasil digagalkan. Beliau menambahkan, "Di hari pemilu rakyat terbagi ke dalam dua kubu, satu kubu didukung oleh 14 juta orang dan kubu yang lain oleh 24 juta orang. Masing-masing memberikan suara kepada kandidat yang dimaukan. Namun tak lama setelah itu, ketika menyaksikan agenda musuh, mereka bergabung menjadi satu dan bersama-sama bangkit melawan musuh dan para perusuh."

Ayatollah al-Udzma Khamenei lantas mengurai dukungan musuh-musuh Islam kepada para perusuh. Beliau mengatakan, "Jika Amerika, Inggris dan Zionis bisa terjun langsung ke jalanan kota Tehran pasti mereka akan melakukan itu. Tapi mereka tahu bahwa tindakan itu hanya merugikan mereka. Karena itu mereka terjun ke arena politik dan media dengan harapan bisa membantu para perusuh sekaligus memalingkan opini umum di dalam dan luar Iran. Namun mereka gagal."

Beliau mengapresiasi pawai mega kolosal rakyat Iran tanggal 9 Dey (30 Desember 2009) dan 22 Bahman (11 Februari) yang didasari kearifan dan persatuan, dan menyebutnya sebagai pukulan pamungkas dan telak rakyat Iran ke arah musuh. "Dua peristiwa besar ini diikuti oleh rakyat yang memilih kandidat presiden berbeda. Namun mereka semua terjun ke tengah medan dengan slogan yang sama. Pawai ini mementaskan persatuan dan kemenangan rakyat dalam memperjuangkan jalan revolusi dan siratul mustaqim," ungkap beliau.

Di bagian lain pembicaraannya, Rahbar menjelaskan rintangan yang menghadang langkah bangsa Iran, seraya mengatakan, "Sama seperti negara-negara lain, Iran juga punya musuh. Namun berbeda dengan rezim AS yang dianggap musuh dan dibenci oleh bangsa-bangsa lain, Republik Islam Iran justeru dimusuhi oleh negara-negara arogan dan antagonis, serta para kapitalis zionis dan musuh-musuh kemanusiaan."

Beliau menyebut keberanian dan kebijaksanaan sebagai dua unsur penting dalam menghadapi musuh. "Tanpa keberanian para pejabat negara akan lemah menyaksikan amukan kaum arogan, dan akibatnya negara akan kalah. Sementara tanpa kebijaksanaan, musuh bisa meraih targetnya lewat cara-cara licik dan penipuan."

Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, "Musuh dan agenda-agendanya harus dikenal dengan baik, sehingga kita bisa mengambil keputusan yang benar dan tepat waktu dalam menghadapi agenda mereka. Inilah yang dimaksud dengan kebijaksanaan dan kecerdasan."

Beliau menerangkan bahwa zionis, AS dan musuh-musuh bangsa Iran terkadang tampil dalam bentuk serigala dan terkadang dalam bentuk musang. Terkadang mereka bersikap ganas dan terkadang menunjukkan sikap yang menipu.

Ayatollah al-Udzma Khamenei mengingatkan kembali apa yang pernah beliau sampaikan tahun lalu, bahwa bangsa Iran tidak akan pernah sudi menjabat tangan bercakar tajam yang dibalut dengan kain beludru. "Tahun lalu saya sudah mengingatkan kepada para pejabat negara dan tokoh bangsa agar mewaspadai uluran tangan Presiden AS, bukankah dibalik balutannya, tangan itu bercakar tajam? Dan itulah yang memang terjadi."

Menyinggung klaim-klaim AS -baik yang terbuka maupun yang tersembunyi- atau ucapan selamat hari raya Nouruz dari pemerintah AS yang dikesankan membawa sinyal keinginan pihak Washington untuk menjalin hubungan yang adil dengan Republik Islam, Rahbar mengatakan, "Fakta justeru berlawanan dengan semua klaim itu. Di tengah hiruk pikuk pemilu dan rangkaian peristiwa setelahnya, para pejabat AS mengambil sikap yang paling buruk. Mereka menyebut para penyerang rakyat dan para perusuh sebagai massa pro gerakan madani. Sikap ini mau tak mau memperlihatkan wajah asli mereka."

Beliau menyerang klaim-klaim AS tentang demokrasi dan hak asasi manusia, seraya menegaskan, "Rezim AS telah menutup mata dari partisipasi besar rakyat Iran dalam pemilu dan pekik persatuan yang diikrarkan oleh bangsa ini dalam berbagai momen dan kesempatan. AS yang belum bersedia mengakhiri pembantaiannya atas rakyat Afganistan dan Irak juga dukungannya kepada para pembunuh anak-anak Palestina di Gaza, terus mengklaim sebagai pejuang HAM. Padahal rezim ini sama sekali tidak berhak berbicara soal demokrasi dan HAM."

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa rakyat dan para pejabat negara Republik Islam Iran menentang rezim-rezim arogan dan mengenalnya dengan baik, dengan baju apapaun mereka membungkus diri. "Kami tak akan pernah mundur," kata beliau tegas.

Di akhir pembicaraannya Ayatollah al-Udzma Khamenei mengungkapkan harapannya bahwa berkat pertolongan Allah yang diiringi oleh kecerdasan, keberanian, kebijaksanaan, persatuan dan resistensi bangsa Iran, musuh tidak akan pernah bisa melumpuhkan pemerintahan Islam ini atau memisahkan rakyat dari pemerintahan. "Kemenangan, kemajuan, dan prospek yang lebih cerah tengah menanti bangsa dan negara ini," kata beliau.

554789
captcha