IQNA

Tiba Saatnya Keruntuhan Bertahap Para Rezim Diktator

5:28 - February 09, 2011
Berita ID: 2078008
Imam Ali Khamenei: Gerakan bangsa-bangsa di sebagian negara dan kebangkitan Islam di Timur Tengah sudah pasti diilhami oleh kebangkitan Islam di Iran selama 32 tahun terakhir dan saat ini kita saksikan keruntuhan bertahap para rezim diktator
IQNA merilis dari situs resmi Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei yaitu (http://indonesian.khamenei.ir), bahwa beliau kemarin (8/2) dalam pertemuan dengan para komandan, perwira tinggi dan pejabat di Angkatan Udara Tentara Republik Islam Iran menyebutkan hal itu dan menambahkan, bahwa resistensi dan kegigihan bangsa Iran dalam mempertahankan prinsip dan nilai-nilai luhurnya terutama Islam sebagai faktor utama yang melestarikan Republik Islam sekaligus menjadikannya teladan bagi bangsa-bangsa lain.

Beliau menandaskan, gerakan agung rakyat di sejumlah negara dan kebangkitan Islam di kawasan jelas terinspirasi oleh gerakan besar Islam yang melibatkan bangsa Iran 32 tahun lalu. Dan kini, masa kekuasaan kaum adidaya perlahan-lahan sudah mendekati akhir.

Dalam pertemuan yang diadakan untuk mengenang hari baiat Angkatan Udara kepada Imam Khomeini (ra) tahun 1979, Rahbar menyebut langkah Angkatan Udara itu sebagai langkah yang berani dan abadi. Beliau menambahkan, tak syak apa yang dilakukan Angkatan Udara pada 19 Bahman 1357 HS (8 Februari 1979) di depan Imam Khomeini melahirkan semangat dan geliat baru di tengah bangsa Iran dan pengaruhnya sangat besar dalam menunjang kemenangan pada 22 Bahman 1357 HS (11 Februari 1979).

Beliau menyebut peristiwa itu sebagai jalan pembuka bagi penyelamatan negara. "Iran sebagai negara yang besar dengan catatan budaya dan sejarah yang gemilang serta kapasitasnya yang berlimpah, sebelum kemenangan revolusi Islam, jatuh ke dalam cengkeraman kekuatan-kekuatan arogan dan terhina. Namun berkat gerakan rakyat tanggal 22 Bahman dan kemenangan revolusi mimpi buruk itupun berakhir,' tegas Rahbar.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa salah satu ciri khas paling penting pada revolusi Islam setelah 32 tahun iini adalah resistensi dan kegigihan bangsa Iran mempertahankan prinsip dan nilai-nilai luhur. "Nilai luhur yang terpenting adalah Islam yang mesti dijaga dan dipertahankan. Sebab, kemerdekaan, kebebasan, kemajuan materi, persatuan nasional dan aktualisasi seluruh potensi sangat bergantung pada Islam," tegas beliau.

Menyinggung sikap Imam Khomeini (ra) yang menekankan dua unsur ‘republik' dan ‘keislaman', Rahbar mengatakan, republik berarti bersandar pada dukungan rakyat, dan kedaulatan Islam tanpa keimanan umum tidak mungkin terwujud. Karena itu, Republik Islam adalah prinsip yang paling mendasar dalam revolusi yang harus dijaga dan dipertahankan.

Beliau yang juga Panglimam Tertinggi Seluruh Korps Angkatan Bersenjata menyatakan bahwa meraih sukses di berbagai bidang meniscayakan kedekatan kepada makna hakiki dari Republik Islam. Beliau menambahkan, "Dalam kurun waktu 32 tahun ini bangsa Iran senantiasa menjadi teladan bagi bangsa-bangsa lain karena resistensi dan kegigihannya memperjuangan Islam dan pemerintahan Islam serta berkat keberhasilan mencengangkan yang dicapainya dalam kerangka ini."

Mengenai gerakan rakyat di sejumlah negara, Ayatolah al-Udzma Khamenei menjelaskan bahwa gerakan ini tidak lahir secara spontan tapi mencuat ke permukaan setelah terjadi penimbunan tuntutan dan pengetahuan dalam masa yang panjang. Dapat dipastikan bahwa rakyat Iran punya andil besar dalam menciptakan gerakan ini.

Hari ini, kata beliau, adalah hari kebangkitan bangsa-bangsa di Timur Tengah dan di Dunia Islam. Masa hegemoni kekuasaan secara perlahan mendekati ajalnya.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, "Bangsa Iran selalu terdepan dalam melawan kubu kekuasaan dan arogansi. Kebanggaan ini dicapai berkat adanya dukungan kombinasi budaya Islam dan Iran yang menyatu dalam pemikiran, jiwa dan spirit bangsa ini."

Rahbar mengingatkan adanya upaya untuk memecah belah barisan rakyat Iran yang satu seraya menyebutnya sebagai salah satu kendala yang menghalangi gerakan ke arah kemajuan, dan inilah yang dimaukan musuh dalam perang lunak.

Beliau menambahkan, perselisihan dan perpecahan di tengah rakyat, di antara pejabat negara atau lembaga-lembaga negara, juga antara rakyat dan pejabat adalah target utama yang dituju oleh musuh untuk merusak solidaritas yang ada di negara ini. Aksi tebar perpecahan itu harus dilawan dalam semua bentuknya, dan satu-satunya jalan untuk mengatasinya adalah dengan menjaga dan memperkuat basirah atau kearifan serta peduli dengan prioritas dan sensitivitas kondisi bangsa Iran saat ini.

Di bagian lain pembicaraannya, Ayatollah al-Udzma Khamenei menyinggung kemajuan yang sudah dicapai Angkatan Udara di berbagai sektor seperti pembuatan suku cadang yang diperlukan, simulasi, pelatihan, dan pengorganisasian korps ini. Menurut beliau kemajuan yang dicapai ini sangat penting. "Gerakan maju ini harus dilanjutkan dan disempurnakan. Jangan sampai kita merasa puas dengan kemajuan yang sudah didapat," imbau beliau.

Rahbar mengingatkan bahwa kelanjutan gerakan ini memerlukan dukungan iman, tekad dan tenaga para pemuda. Beliau menandaskan, "Tawakkal kepada Allah dan menyandarkan diri pada kekuatan, pikiran, kreativitas dan rasa percaya diri para pemuda bisa menciptakan mukjizat di semua bidang."

Dalam pertemuan itu, Kepala Staf Angkatan Udara Brigadir Jenderal Safie menyampaikan kata sambutannya terkait peringatan baiat Angkatan Udara kepada Imam Khomeini 19 Bahman 1357 HS, seraya menyebutnya sebagai tindakah berani yang menunjukkan kepatuhan korps ini kepada pemimpin.

Safie mengatakan, para komandan dan pejabat di Angkatan Udara telah menunjukkan pembelaannya kepada revolusi Islam Iran dalam banyak kesempatan seperti di masa perang pertahanan suci.

Dia juga menjelaskan kemajuan yang dicapai Angkatan Udara dalam berbagai bidang seperti pembuatan sistem radar udara, peluru kendali, simulasi sistem pertahanan dan pembuatan suku cadang.

744529
captcha