Menurut laporan IQNA, seperti dikutip dari situs Organisasi Kebudayaan dan Komunikasi Islam, Abuzar Ibrahimi Turkaman, Ketua Organisasi Kebudayaan dan Komunikasi Islam pertama-tama melakukan lawatan ke Thailand guna berpartisipasi dalam konferensi global Perdamaian Buddha 2016, di tempat Akademi Internasional Buddha Myanmar, dan melalukukan pertemuan dan dialog dengan sejumlah rohaniawan, mubalig, para tokoh religi, univeritas dan para sarjana pengikut Ahlulbait (As) negara ini.
Pertemuan yang berlangsung pada hari Selasa (19/1) di Konsuler Kebudayaan Iran di Bangkok, Ibrahimi Turkaman salam pidatonya menyebut persatuan dan empati sebagai kunci kesuksesan komunitas Syiah Thailand. "Persatuan dan empati antara Syiah dan para pecinta ajaran Ahlulbait (As) menyebabkan pengembangan dan pendalaman kebudayaan Ahlulbait (As),” ucapnya.
Anggota dewan revolusi kebudayaan dengan menjelaskan sebuah hadis dari Rasullullah (Saw), mengintroduksikan filsafat eksistensi agama Islam sebagai kecintaan dan kasih sayang dengan selainnya dan menambahkan, keikhlasan niat dan berserah diri kepada Allah menyebabkan terbukanya urusan dan keberkahan, khususnya dalam masalah dakwah.
"Kesuksesan para penganut Ahlulbait (As) di dunia bergantung pada penggunaan perintah-perintah Al-Quran dan akhlak mulia dan jika kita menghendaki peraihan kesuksesan dan posisi yang tinggi, maka kita harus memperkuat keramahan dan persahabatan dengan selainnya,” ucap Ketua Organisasi Kebudayaan dan Komunikasi Islam.
Perlu diingat, di bagian akhir pertemuan Hujjatul Islam Abuzar, Imam Jum’at dan jamaah masjid Al-Huda di Bangkok, Hujjatul Islam Syaikh al-Nashar, imam Jum’at dan jamaah masjid Dar al-Zahra (Sa), Hujjatul Islam Sayid Sulaiman, Syarif Hadi, pengajar universitas, Qasimi, salah seorang pengajar Jamiah al-Mustafa (Saw) al-Alamiah menjelaskan poin perspektifnya terkait penyebaran kebudayaan Ahlulbait (As) di dalam masyarakat Thailand.