IQNA

Juri Indonesia bagian Wanita Musabaqoh Al-Quran:
0:21 - April 28, 2017
Berita ID: 3471201
IRAN (IQNA) - Bagi para remaja muslim masalah penting pertama adalah mempelajari al-Quran, setelah itu baru dapat mempelajari hal-hal lainnya; membaca al-Quran akan memberikan mereka pola koheren mental dan keteraturan dan mereka sendiri mengerti jenis kehidupan seperti apa yang dimiliki, menelaah buku-buku apa saja, harus memiliki perilaku apa dan hal-hal lainnya.

















Hj. Maria Ulfa, qori’ah terkemuka Indonesia dan juri suara dalam musabaqoh internasional al-Quran wanita di Iran saat wawancara dengan IQNA menegaskan, tahun ini saya berpartisipasi untuk pertama kalinya sebagai juri musabaqoh internasional al-Quran dan di bagian perempuan.

Ia dalam wawancara ini yang dilakukan dengan bantuan suaminya, sebagai penerjemah mengatakan, saya sampai sekarang diundang ke sejumlah negara seperti, Amerika, Kanada, Selandia Baru, Australia, Belanda, Perancis, Inggris, Belgia, Austria, Jerman, Mesir, Timur Tengah, Tokyo, Hong Kong, Brunei, Malaysia, Kuala Lumpur dan ikut berpartisipasi dalam sejumlah acara atau majelis al-Quran.

Menurut pengalaman saya, qori’ah terbaik adalah dari negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Iran, Mesir, dan Aljazair. Para qori Iran juga adalah para qori terbaik, yang memiliki popularitas lebih di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Qori’ah Indonesia ini menambahkan, musabaqoh al-Quran di Indonesia diselenggarakan dari tahun 1968 di tingkat lokal dan nasional dan tiga tahun berikutnya juga musabaqoh internasional Indonesia diselenggarakan setiap tahun, namun khusus untuk laki-laki saja.

"Al-Quran adalah petunjuk manusia dan kaum muslim harus menggunakan ajaran-ajaran al-Quran dalam kehidupannya. Pesan saya kepada kaum muslim adalah mengenal bahasa Al-Quran, yakni bahasa Arab, karena jika demikian, dapat mengetahui makna-makna indah al-Quran dengan tanpa perantara dan secara langsung dan menyelami kedalamannya,” imbuhnya.

Hj. Maria Ulfa, demikian juga dengan mengisyaratkan penyelenggaraan musabaqoh internasional al-Quran di Iran, dengan mengucapkan rasa terimakasih kepada para pengurus penyelenggara musabaqoh ini untuk menyelenggarakan bagian perempuan di samping para laki-laki, mengatakan musabaqoh ini merupakan aktualisasi persatuan kaum muslim.

"Persatuan adalah hal yang sangat penting yang tidak semestinya dilupakan. Benar bahwa kita kaum muslim memiliki perbedaan dalam keyakinan, namun dengan adanya ini semua kita harus saling bersatu; bahkan jika kita melihat keluarga sebagai sebuah lembaga kecil, di dalam satu keluarga juga terdapat perbedaan antar individu, namun pada akhirnya tetap bersatu dan dengan mengenyampingkan perbedaan dan bersandar pada titik persamaan dan kesukaan, pondasi keluarga terjaga; ini harus ada dalam keluarga besar Islam," imbuhnya.

Hj. Maria Ulfa mengatakan, bagi para remaja muslim masalah pertama yang penting adalah mempelajari al-Quran, setelah itu baru dapat mempelajari hal-hal lainnya; membaca al-Quran akan memberikan kepada mereka keteraturan dan pola koheren mental dan mereka sendiri akan mengerti jenis kehidupan seperti apa yang harus dimiliki, dan buku-buku apa saja yang harus mereka menelaah, dan berperilaku yang bagaimana yang harus dimiliki.

Hj. Maria Ulfa lahir diLamongan,Jawa Timur, Indonesia pada tanggal 21 Desember 1955, qori’ah Indonesia dan Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Pusat. Ia pemenang dua MTQ nasional Indonesia dan dalam kancah internasional dikenal sebagai qori’ah internasional dan pengajar qiraat.

Ia demikian juga menjadi pengajar lembaga telaah al-Quran Jakarta dan universitas nasional Islam Indonesia dan pemenang pertama wanita musabaqoh internasional al-Quran Malaysia pada tahun 1980. Selain pernah memimpin LPTQ Pusat, ia juga merupakan seorang dosen dan menjabat sebagai WakilRektorII pada Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta. Ia tokoh terkemuka dalam kancah internasional dan dikenal sebagai qoriah al-Quran Asia Tenggara.

Hj. Maria Ulfa lahir dari ayah yang bernama H. Mudhoffar dan ibu Hj. Ruminah. Beliau merupakan anak ke-9 dari dua belas bersaudara. Pada tahun 1981, ia menikah dengan Mukhtar Ikhsan,seorang dokter spesialis paru lulusan Fakultas Kedokteran,Universitas Indonesiatahun 1993 dan kini menjabat sebagai Ketua Komite Medik RS Bhinneka Bhakti Husada,Tangerang, serta jabatan-jabatan penting lainnya di dunia kedokteran. Atas pernikahannya dengan dr. Mukhtar Ikhsan, Hj. Maria Ulfa dikarunia tiga orang putra, mereka adalah Ahmad Nabries, Mohammad Labib, dan Rifky Mubarak.

Hj. Maria Ulfa dikenalkan dengan al-Quran oleh ayahnya. H. Mudhoffar mengajarkan bahwa semua laki-laki dan perempuan adalah sama. Ia adalah pendiri musabaqoh qiraat al-Quran di kotanya guna memindahkan pengalaman-pengalamannya kepada putrinya dalam ranah ini.

Pendidikan al-Quran Ulfa dimulai sedari umur 6 tahun dan kecintaannya dengan seni al-Quran ini meningkat drastis dengan registrasi dan kehadirannya di sebuah sekolah siang malam Islam, karena di situ mereka mensuport Ulfa untuk melanjutkan sejumlah aktivitasnya dalam jurusan qiraat al-Quran.

Sejak tahun 1980, Ulfa dikenal dalam kancah internasional sebagai seorang tokoh terkemuka dalam qiraat al-Quran dan peneliti sejarah qiraat al-Quran di kepulauan Indonesia dan juga pengajar lembaga telaah al-Quran di Jakarta.

http://iqna.ir/fa/news/3592857

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\