IQNA

Spesifik IQNA;
16:50 - May 17, 2018
Berita ID: 3472188
PAKISTAN (IQNA) - Kawasan Sindh di Pakistan adalah kawasan orang-orang suci dan kelompok Sufi, dan banyak para tetua menyebarkan Islam dengan cara mereka sendiri di bidang ini, dan menyampaikan pesan cinta, toleransi, dan persaudaraan kepada orang-orang.

 Sindh, Kawasan Orang-Orang Suci dan Kaum Sufi

Menurut laporan IQNA, Nyonya Shabina Faraz adalah wartawan senior Pakistan. Dia menulis tentang masalah sosial dan lingkungan selama 15 tahun terakhir. Shabina Faraz telah menerima beberapa penghargaan. Dia juga telah berkolaborasi dengan beberapa institusi internasional.

Dalam sebuah artikel berjudul "Sufisme sebagai salah satu cara untuk mengalahkan terorisme", yang mana atase kebudayaan Iran di Pakistan telah memberikan naskah ke IQNA, menyebutkan baru-baru ini saya mendapat kesempatan dan berpartisipasi dalam sebuah acara yang diselenggarakan untuk menghormati Maulana Jalaluddin Rumi dan Shah Abdul Latif Bhittai. Dalam program ini, yang diadakan di sebuah tempat yang disebut "Maden Faqir" di daerah Bat-Shah (provinsi Sindh), terlihat contoh praktis toleransi beragama, persatuan dan persaudaraan dan secara bersamaan dibacakan puisi Shah Abdul Latif, dan juga dilaksanakan acara tradisional Darwish yang dinisbatkan dengan Maulana Jalaluddin Rumi.

Hari itu bertepatan dengan peringatan ke-767 Maulana. Kawasan Sindh adalah tanah orang-orang suci dan kelompok Sufi. Di sini, banyak orang dan penatua, termasuk Lal Shahbaz Qalandar, Sachal Sarmast, dan Shah Abdul Latif, yang menyebarkan Islam dengan cara mereka sendiri dan menyampaikan pesan cinta, toleransi, dan persaudaraan kepada orang-orang di tanah ini.

Saat ini juga, makam para sesepuh ini adalah tempat untuk ketenangan rohani para peziarah yang datang ke tempat-tempat ini. Tentu saja, Shah Abdul Latif Bhittai adalah pengenal dan faktor identitas tanah Sindh. Tanah ini menarik pesan Shah Abdul Latif sehingga Sindh dan Shah Abdul Latif menjadi dua nama satu wajah. Ini juga fakta bahwa setelah peristiwa 11 September, beberapa orang di dunia mengaitkan Islam dengan terorisme, tetapi belum terlambat bahwa pemikiran sempit ini ditolak oleh orang-orang sains dan budaya serta upaya pencarian Islam dimulai dalam bentuk aslinya.

Upaya ini membawa mereka ke pintu para penatua agama, dan mereka mulai memahami pesan-pesan para wali Tuhan. Pusara para wali tersebar di segala penjuru di Pakistan. Filosofi semua penatua ini berdasarkan pada cinta Tuhan dan para hamba-Nya. Orang-orang dari seluruh dunia mencari tahu dan hadir di tempat-tempat ini untuk mengenal Islam. Sebagian besar mereka adalah mahasiswa dan peneliti. Pintu Shah Abdul Latif Bhittai juga merupakan sebuah pusat yang mendapat perhatian dari para peziarah dan ulama penjuru dunia. Untuk menyediakan fasilitas bagi orang-orang itu, yayasan Shah Abdul Latif telah mendirikan sebuah resor yang disebut Maden Faqir. Sejatinya, pada hari itu, acara pembukaan juga diadakan di tempat peristirahatan tersebut, dan musik dan sima’ adalah salah satu programnya. Tempat peristirahatan Maden Faqir dengan dukungan keuangan dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan upaya-upaya khusus Masood Lohar, direktur proyek kantor tersebut di Pakistan, dan dibangun Seyyed Waqar Hussain Shah.

Kita Jangan Melupakan Tempat Ziarah

Waqar Hussain Shah mengatakan, sekarang saatnya filosofi makam dipaparkan dengan lebih baik. Kami telah menciptakan kotak amal untuk mengumpulkan uang untuk membuat makam, tetapi kami tidak mengabaikan filosofi tempat-tempat ini dan ajaran para sesepuh ini. Hari ini, makam-makam dikuasai oleh mafia pengemis dan pecandu dan pemerintah yang bertanggung jawab untuk hal ini. Saya secara eksplisit mengatakan bahwa urusan amoral adalah hal yang biasa di tempat-tempat ziarah di bawah pengawasan pemerintah, dan hal ini telah membuat para pelajar dan keluarga yang berpendidikan jarang mengunjungi tempat-tempat ini. Kantor wakaf yang didirikan pada tahun 1958 dan berusaha dengan berbagai cara untuk menghilangkan peran tempat ziarah sebagai tempat berkumpulnya orang. Mulla dan sekolah-sekolah agama awalnya bertindak sesuai selera mereka, tetapi tempat ziarah adalah satu-satunya tempat di luar kediktatoran negara dan manifestasi ketenangan bagi para peziarah. Menurut Waqar Hussain Shah, tempat-tempat ini adalah tempat untuk mengumpulkan orang dan ratusan ribu orang datang ke tempat-tempat ini. Ketakutan pemerintah adalah jangan sampai tempat-tempat ini memberontak terhadap mereka, dan untuk tujuan ini mereka ikut campur dengan membuat kantor wakaf dalam urusan tempat ziarah dan orang-orang dengan nama direktur wakaf dipilih, yang mana tujuannya tidaklah mengumpulkan uang semata dan didirikan untuk seluruh pokok-pokok akhlak dan kondisi masih tetap demikian selama enampuluh tahun.

Dia menambahkan, kami punya dua cara; kami harus melawan pemerintah, atau mengatur para murid dan peziarah kami dan terus memperbaiki keadaan. “Kami lebih suka opsi kedua. Yayasan Shah Latif didirikan melalui layanan ambulans dan kamp medis gratis dimulai. Departemen Wakaf menyediakan layanan yang sama dengan mendapatkan uang dan bahkan menarik uang untuk kamar mandi. Sementara kami memberikan layanan secara gratis untuk masalah sepatu dan kami membayar biaya tersebut kepada Kementerian Wakaf. Kami demikian juga telah mendirikan Dewan Internasional Syaikh Pakistan, dengan 200 tempat ziarah, yang dipimpin oleh saya. Kami telah mencoba mengintegrasikan tempat-tempat ziarah sehingga kami dapat menyampaikan pesan dengan cara yang lebih efektif.”

Waqar Shah dengan mengisyaratkan sebuah masalah mengatakan; masalah terbesar kami di bidang ini adalah mengusir mafia narkoba dari tempat ziarah, tetapi pemerintah bukannya membantu namun malah menciptakan masalah untuk kami dan resistensi orang-orang terkait dengan mafia ini juga telah menciptakan kesukaran-kesukaran dalam hal ini. Akan tetapi, kami akhirnya berhasil membersihkan makam dari mafia narkoba dan dalam hal ini kami dihadapkan pada kasus-kasus yang kami hadapi. Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang cocok untuk peristirahatan dan tempat yang tepat untuk tinggal dan nutrisi para peziarah, serta ruang yang tepat bagi para peneliti. Kami menamakan resor-resor ini, dengan nama Maden Faqir, untuk harmoni antar agama. Maden Faqir adalah pengikut Hindu Shah Abdul Latif dan sangat dekat dengannya. Dengan nama ini kami benar-benar menunjukkan bahwa pesan tempat ziarah lebih tinggi dari warna, ras dan agama serta pesan manusia. Dalam bagian utama puisi Shah Abdul Latif, wanita telah dipaparkan sebagai pahlawan.

Dapat dikatakan bahwa Shah Abdul Latif tiga abad lalu berbicara tentang filsafat modern hak-hak dan kebebasan perempuan. Kehadiran kisah-kisah ini dalam puisi Shah Abdul Latif juga mencerminkan kebesaran dan keberanian wanita dan peran penting wanita dalam kehidupan pria. Resor Maden Faqir memiliki lima kamar, yang dinamai sesuai dengan nama-nama para jawara kisah-kisah ini.

Di resor ini, perpustakaan komputer baru dan sekolah musik akan didirikan di mana karya Shah Abdul Latif dan puisinya akan dieksplorasi. Cabang sekolah ini akan didirikan di New York. Kepala sekolah akan dipegang oleh Nyonya Pi Lang dari Taiwan, yang saat ini sedang mengejar gelar Ph.D. dari universitas Harvard.

Kecintaan kepada Alquran

Dikatakan bahwa Shah Abdul Latif memiliki keakraban khusus dengan Maulana Jalaluddin Rumi. Pir Hassam-ud-Din Rashidi menulis bahwa Shah Abdul Latif selalu membawa Alquran, Bayan al-A'arifin, dan Rumi Masnavi. Shah Latif mempelajari buku-buku ini dengan tepat dan itulah mengapa puisinya berbicara tentang kemanusiaan. Shah Abdul Latif memilih sebuah bukit desa bernama Bat Shah sebagai tempat tinggalnya.

Dia melakukan sair suluk di sini selama empat dekade, lalu dimakamkan di situ dan tempat ini telah mengubahnya menjadi titik referensi makhluk. Puisinya di atmosfer desa ini begitu bergema dimana hari ini, Bat Shah juga seperti puisinya mendunia dan milik semua masa.

Shah Abdul Latif berdoa untuk tanah Sindh: Ya Allah, jagalah Sindh selalu subur dan menggembirakan dan dengan itu membuat seluruh dunia tetap hidup.

Doa ini meliputi seluruh Pakistan, bahkan seluruh dunia. Karena pesan wali Allah mencakup seluruh umat manusia di dunia. Hari ini, kita tidak bisa menghilangkan terorisme dengan menggunakan senjata dan untuk tujuan ini kita harus memperluas pesan perdamaian dan persahabatan dari para hamba terkasih Tuhan.

 

http://iqna.ir/fa/news/3714647

 

 

 

 

Kunci-kunci: Pakistan ، Sindh ، Kawasan Suci dan Sufi ، IQNA
Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\