IQNA

Perwakilan Rahbar di New Delhi:
7:17 - April 07, 2020
Berita ID: 3474106
TEHERAN (IQNA) - Perwakilan Pemimpin Tertinggi Revolusi di India, dengan mengisyaratkan pada solidaritas yang mendalam di antara berbagai agama, termasuk Muslim, Buddha, Sikh, dan pengikut agama lain di sub benua ini, menekankan: Solidaritas antar berbagai agama, terutama Syiah dan Ahlussunnah, merupakan peluang yang harus dijaga.

Hujjatul Islam Mahdi Mahdavipour, perwakilan Pemimpin Tertinggi Revolusi di India, dalam sebuah wawancara dengan IQNA, terkait persatuan Syiah dan Ahlussunnah di negara ini, mengungkapkan: Setelah kemenangan Revolusi Islam, berbagai upaya dilakukan untuk menjadikan persatuan di antara kedua mazhab ini lebih terimplementasi, yang disambut baik oleh keduanya dan berkembang di negara-negara lain.

Dia menyebutkan penyelenggaraan berbagai pertemuan Syiah dan Ahlussunnah di negara itu pada berbagai kesempatan dan melanjutkan: “Misalnya, ribuan majelis diadakan oleh komunitas Syiah dan Ahlussunnah pada kesempatan Pekan Persatuan dan dalam ceramah-ceramahnya berbicara dan menekankan tentang persatuan antara Syiah dan Ahlussunnah. Salah satu masalah yang telah memperkuat persatuan antara Syiah dan Ahlussunnah ini adalah pengumuman hari libur resmi kelahiran Nabi Islam (saw) di India.

Memperhatikan bahwa mayoritas masyarakat India adalah non-Muslim, ia menambahkan: "Untuk menyatukan Muslim, baik Syiah dan Ahlussunnah, ada acara dan program yang sangat besar di India yang kadang-kadang dihadiri oleh 100.000 orang, dan acara ini diadakan tahun ini juga. "

Mahdavipour mengatakan: “Tahun ini, sebuah acara yang sangat besar diadakan di kota Kerala (terletak di wilayah selatan India dan di pinggiran sub benua ini) untuk persatuan Syiah dan Ahlussunnah dan kelahiran Nabi Islam (saw) diselenggarakan dengan dihadiri oleh 300.000 orang.”

Dia berbicara tentang penyelenggaraan 5 konferensi dengan tema persatuan Islam dan dengan mempertimbangkan efektifitasnya dalam menciptakan dan menjaga persatuan antara Syiah dan Ahlussunnah, dia melanjutkan: Selain konferensi-konferensi ini, beberapa pertemuan diadakan di masjid-masjid dan hauzah dengan pendekatan persatuan Islam. Di antara acara-acara ini adalah diadakannya konferensi di Jammu. Berbagai acara juga diadakan di Mumbai dan Lucknow. Program-program ini diadakan setiap tahun dengan judul "Pesan Persatuan dan Musim Semi Rahmat" dalam bentuk konferensi besar. Tentu saja, program-program ini menunjukkan pentingnya persatuan Islam di India, dan delegasi dari Iran juga hadir pada acara tersebut.

Dengan menekankan bahwa ada solidaritas yang mendalam antara Syiah dan Ahlussunnah di India, Mahdavipour menjelaskan: Ahlussunnah juga pecinta Ahlulbait (as) dan menerima wilayah kepemimpinan mereka. Di berbagai belahan dunia, dengan langkah-langkah yang dipikirkan oleh para pemimpin Syiah dan Ahlussunnah, ada kelembutan dan keharmonisan di antara pengikut kedua mazhab dan berpartisipasi dalam pertemuan satu sama lain. Tahun ini, Pekan Persatuan dan Kelahiran Nabi Islam bertepatan dengan perayaan kaum Sikh (monoteis India) dalam rangka peringatan 500 tahun kelahiran pemimpin mereka, Guru Nanak. Demikian juga, Hujjatul Islam Sayyid Abulhasan Nawab, Ketua Universitas Adyan dan Mazahib Iran, hadir di acara ulang tahun pemimpin Sikh.

Dia juga menyebutkan kehadiran Hujjatul Islam Mohammad Reza Saleh, mantan perwakilan Jamiah al-Mustafa al-Alamiah di India, dalam perayaan-perayaan tersebut dan mengatakan, adanya persatuan di antara para pemimpin Sikh, Muslim, India, Budha dan agama-agama lain di India dan solidaritas antar agama adalah peluang yang harus dijaga. Jika ada konflik antara para pengikut pelbagai agama, itu akan menyebabkan kerusakan besar pada keamanan India dan akan mencegah peningkatan persatuan ini. (hry)

 

3889357

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\