
Di dunia saat ini, di mana persamaan kekuasaan berubah dengan cepat, perspektif para pemikir seperti Mohd Azmi Abdul Hamid, dari Malaysia menawarkan gambaran baru tentang dampak Revolusi Islam Iran, sebuah revolusi yang melampaui batas geografis dan menginspirasi gerakan anti-kolonial dan pencarian keadilan di Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Ia percaya bahwa manifestasi sejati revolusi tersebut terletak bukan pada dimensi militer, tetapi pada pemulihan kepercayaan diri bangsa-bangsa untuk melawan dominasi.
Presiden Majlis Perunding Pertubuhan Islam Malaysia (MAPIM) dan Penasihat Perdana Menteri negara tersebut melakukan pertemuan dengan IQNA dalam rangka peringatan 47 tahun kemenangan Revolusi Islam Iran. Rincian percakapan tersebut adalah sebagai berikut:
Iqna - Revolusi Islam didasarkan pada konsep-konsep seperti "keadilan", "kebebasan", dan "martabat manusia". Bagaimana status konsep-konsep ini dari perspektif Alquran, dan bagaimana dapat dikatakan bahwa Revolusi Islam sebenarnya merupakan kembalian kepada ajaran asli Alquran?
Dari perspektif Alquran, keadilan, kebebasan, dan martabat manusia bukanlah slogan politik. Itu adalah prinsip-prinsip Ilahi yang mendasar. Alquran memerintahkan keadilan sebagai kewajiban: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan dirimu sendiri, ibu bapakmu, atau kerabatmu” (QS. An-Nisa: 135).
Revolusi ini menghadirkan perjuangan politik sebagai perpanjangan dari perlawanan Alquran terhadap kezaliman dan penindasan.
Iqna - Apa dampak nyata Revolusi Islam Iran terhadap kesadaran politik dan sosial masyarakat umum yang mencintai kebebasan di dunia?
Dalam hal dampak sosial, harus dikatakan bahwa revolusi tersebut menginspirasi aktivisme rakyat di kalangan masyarakat yang tertindas, bukan hanya Muslim. Gerakan anti-imperialis di Amerika Latin, Afrika, dan Asia sering kali mengambil inspirasi dari model Iran dalam memerangi penindasan.
Adalah keliru untuk mereduksi dampak revolusi hanya pada dimensi militer. Dampak yang paling abadi, bisa dibilang, adalah dampak psikologis dan ideologis; mengembalikan kepercayaan bahwa perlawanan itu mungkin dilakukan. (HRY)