Mohammad Ridah Bahonar dalam wawancaranya dengan Iqna mengatakan hal itu dan menambahkan, bahwa fatwa penghancuran situs-situs bersejarah yang berhubungan dengan para Imam Syiah haruslah dipahami, bahwa tidak dapat dipungkiri lagi Islam adalah merupakan tantangan bagi kepentingan Imprealisme Internasional di Kawasan dan dunia Islam pada umumnya.
Menurutnya memang wajar jika para imprealisme menginginkan adanya persatuan di kalangan kaum muslimin, karena itu dengan berbagai cara mereka melakukan konspirasi dan ini adalah politik pemecah belah yang sejak awal abad 19 sudah dilakukan oleh Inggris untuk mendapatkan pengaruh dan kekuasaan.
Yang sangat disesalkan adalah adanya segelintir ulama Islam yang tidak peka terhadap hal itu, malah mereka melakukan sesuatu yang sejalan dengan keinginan musuh dan tidak sejalan dengan dasar agama manapun serta sangat tidak logis.
Menurutnya fatwa penghancuran situs-situs bersejarah itu tidak hanya ditentang oleh Syiah saja, namun oleh seluruh kaum muslimin.
Kaum muslimin sebenarnya dapat bersatu dengan berpegang teguh dengan poin-poin kesamaan yang sangat banyak di kalangan mereka, tegasnya.
Karenanya seudah selayaknyalah seluruh ulama menyampaikan protesnya atas fatwa provokatif tersebut dan kepada para musuh yang selalu berupaya untuk memecah belah kaum muslimin hendaknya menghentikan upayanya, karena umat Islam pasti secara serentak akan menghindari seluruh upaya pemecah belah tersebut dengan berpegang teguh pada poin-poin kesamaan di antara mereka.
148514