IQNA

23:27 - February 27, 2017
Berita ID: 3471060
MESIR (IQNA) - Syaikh Athif Muhammad Mahmud Said, tunanetra Mesir tinggal di desa Abu Ghurarah, propinsi Al Buhyrah Mesir, meski tidak memiliki kenikmatan untuk melihat, namun ia berhasil menghafal seluruh al-Quran.

Menurut laporan IQNA seperti dikutip dari al-Youm al-Sabi’ Mesir, propinsi Al Buhayrah di Mesir adalah lembaga pengembangan ahli al-Quran, para ulama dan cendekiawan, bulan Ramadhan tahun lalu, komite penyelenggara musabaqoh internasional al-Quran laki-laki dan perempuan Malaysia memilih Mayadah Mahmud Mahmud Abdul Rahim dari propinsi Al Buhayrah sebagai juara pertama dalam jurusan hafalan dan tartil al-Quran dan Abdullah Said Muhammad Bayumi al-Qazas asal propinsi ini sebagai juara pertama jurusan hafalan dan tartil laki-laki dalam kompetisi ke 58.

Di samping para ilmuwan dan aktivis al-Quran, Syaikh Athif Muhammad Mahmud Said, tunanetra Mesir dari desa Abu Ghurarah di kota Abu al-Matamir propinsi Al-Buhayrah, meski tidak dapat melihat, namun Allah menerangkan hatinya dengan cahaya al-Quran.

Kesukaran Tidak Merintangi Kemajuan

Meski sejak dari lahir ia tidak mendapat kenikmatan penglihatan dan tumbuh besar dalam keluarga miskin, sejak dari kecil ia mendengarkan ayat-ayat al-Quran dan dengan menimba ilmu tajwid di usia remaja, akhirnya di umur 36 tahun ia dapat menghafal seluruh al-Quran.

Ayahnya bekerja di para majikan desa guna mendapatkan penghidupan yang halal dan dapat menyuapi untuk keluarga 7 orangnya, yang salah satunya adalah Syaikh Athif.

Syaikh Athif adalah tukang reparasi sepeda dan memutar kehidupannya lewat jalan ini. Ia mengatakan pada al-Youm al-Sabi’, saya memulai pekerjaan ini beberapa tahun lalu, awalnya saya bekerja pada dua orang dan saya mempelajarinya dan setelah mahir, saya bekerja untuk diri saya dan sekarang ini saya dapat mereparasi sepeda yang rusak.

Kemuliaan Jiwa Syaikh Athif

Ia memiliki kemuliaan jiwa dan menolak bantuan finansial dan salah satu asanya adalah memiliki pekerjaan yang tepat, yang dekat dengan rumahnya; karena pekerjaan yang ada sekarang ini tidaklah permanen dan tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya.

Tunanetra Mesir ini menambahkan, Alhamdulillah Allah mengaruniakan saya nikmat bashirah dan meski saya tunanetra, namun berhasil menghafal seluruh al-Quran.

Syaikh Athif demikian juga mengatakan, saya mulai menghafal al-Quran sejak dari 26 tahun dan selama 10 tahun akhirnya dapat menghafal seluruh al-Quran. Alhamdulillah Allah telah memberi anugerah pada saya dan saya dengan bantuan orang-orang baik, seperti Syaikh Sya’ban dan para pengajar lainnya dapat menghafal al-Quran.

Harapanku adalah Menunaikan Haji

Ia menegaskan, semoga Allah ridho dan harapan saya adalah bersama kedua orang tua dapat menunaikan haji dan kemudian membangun rumah.

Syaikh Athif yang sudah bekerja dan memiliki 4 anak mengatakan, tahun 2002 saya menikah dengan anak putri bibiku, Allah telah mengaruniakan empat anak pada saya; Usamah kelas 1 SD dan Umar kelas tiga, Ahmad dan Muhammad berumur dua bulan.

Kesiapan untuk Mengajar Al-Quran pada Generasi Baru

Syaikh Athif di penghujung menjelaskan, saya sekarang ini memiliki kesiapan untuk mengajar al-Quran pada generasi baru dan melakukan hal yang mendapatkan ridha Allah dan mendapatkan ganjaran di akhirat.

Tunanetra yang Hafal Al-Quran dengan Cahaya Hati

Tunanetra yang Hafal Al-Quran dengan Cahaya Hati

Pelapon Rumah Syaikh Arif terbuat dari kayu tripleks bekas 

Tunanetra yang Hafal Al-Quran dengan Cahaya Hati

Tunanetra yang Hafal Al-Quran dengan Cahaya Hati

Dapur sederhana

Tunanetra yang Hafal Al-Quran dengan Cahaya Hati

Bengkel reparasi Syaikh Arif

http://iqna.ir/fa/news/3578296

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\