IQNA

Wawancara IQNA dengan Kepala Departemen Muslim Georgia:
18:20 - September 18, 2017
Berita ID: 3471569
GEORGIA (IQNA) - Kepala Departemen Muslim Georgia dengan menjelaskan bahwa pendekatan militer dalam masalah krisis Rohingya bukanlah solusi tepat mengatakan, mengancam embargo Myanmar dan memutus hubungan termasuk salah satu solusi melawan negara ini untuk menghentikan genosida.

Ramin Egyedov, Kepala Departemen Muslim Georgia saat wawancara dengan IQNA dengan mengkaji perubahan terkini di Myanmar juga mengkritik kebungkaman masyarakat dunia terhadap pemunuhan umat muslim Rohingya.

Ia dengan mengisyaratkan masalah ini, bahwa umat Muslim Myanmar tidak mendapatkan hak kewarganegaraan mengatakan, pemerintah Myanmar berupaya mengeluarkan seluruh umat muslim Rohingya dari negara ini. Myanmar memiliki sekitar 60 juta populasi dan para imigran dari Cina, India dan negara-negara lainnya yang juga tinggal di situ. Namun hanya muslim semata yang mendapatkan penganiayaan dan penyiksaan semacam ini.

Dapat dikatakan bahwa ini termasuk salah satu hasil konkrit Islamfhobia di dunia. Untuk hal ini dapat menganalogikan salah satu ucapan seorang biksu Buddha yang menyerupakan umat muslim sebagai seekor ular berbisa yang berbahaya dan dikatakan tidak ada seorangpun yang ingin merasakan bahaya ini di negaranya.

Kita Berhati-hati dengan Pengaruh Kelompok Teroris

Kepala Departemen Muslim Georgia menegaskan, sejumlah negara Islam dalam rangka membela hak-hak muslim Rohingya dan refleksi keteraniayaan mereka kepada masyarakat dunia, maka tidak cukup hanya dengan mengeluarkan statemen semata. Mengancam Myanmar akan embargo dan pemutusan hubungan komunikasi termasuk salah satu solusi melawan negara ini. Demikian juga harus berhati-hati bahwa kelompok teroris tidak berpengaruh di kalangan umat muslim Myanmar.

"Pendekatan militer dana atau pengumuman perang dengan Myanmar bukanlah solusi yang bagus dan hal itu dapat menyebabkan peperangan antara Muslim dan Buddha. Karenanya terkait masalah muslim Rohingya harus bergerak dengan waspada dan jeli,” lanjutnya.

Ramin Egyedov dengan mengisyaratkan kebungkaman masyarakat dunia di hadapan pembunuhan masal umat muslim Myanmar menambahkan, tidak dapat mengharap para pejabat Barat dan demikian juga sejumlah lembaga internasional untuk menegakkan keadilan. Karena dalam hal ini banyak sekali melihat tentang hal ini, yaitu negara-negara Barat tidak bersikap adil. Karenanya mereka kehilangan kredibelitas dan tidak dapat dipercaya lagi.

Kepala Departemen Muslim Georgia mengatakan, kita semua mengerti dengan baik bahwa jika negara-negara dunia memiliki landasan keadilan di hadapan insiden Suriah, maka krisis ini sampai sekarang akan berakhir. Namun ironisnya dalam perubahan ini, sebagian ISIS dan sebagian yang lain juga mendukung pasukan bebas Suriah dan tidak mengizinkan masyarkat negara itu sendiri yang menyelesaikan krisis tersebut.

Ramin Egyedov melanjutkan, dalam insiden ini Barat tidak kehilangan hal apapun. Adapun yang terjadi di Suriah maka tidaklah penting bagi Barat, karena para korban utama dalam perubahan ini adalah muslim. Insiden ini dari aspek ekonomi dan komersil juga banyak memberikan kerugian kepada umat muslim. Dari sisi lain amat memprihatinkan meski nasehat-nasehat al-Quran adalah tentang persatuan dan persaudaraan, namun sampai sekarang kita masih menyaksikan sejumlah konflik di tengah-tengah dunia Islam.

Ia dengan mengkritik pendekatan diskriminasi sejumlah media Barat khususnya refleksi sebagian perubahan-perubahan dunia menambahkan, barat khususnya dalam sebagian insiden, memiliki tolok ukur ganda. Semisalnya jika sebuah insiden terjadi di salah satu negara Islam, maka mereka merefleksikan insiden tersebut sesuka hatinya dan dalam rangka kemasalahatan mereka. Namun ketika terjadi insiden kecil di salah satu negara Eropa, sejumlah media dengan segenap upayanya menyiarkan sejumlah beritanya tentang hal tersebut dan menghimbau masyarakat dunia untuk memaparkan solusi. Bahkan dalam sebagian hal para pejabat tinggi negara ini berkumpul dan mengkaji masalah tersebut.

Pendekatan Islam akan Pembunuhan Orang-orang Tak Berdosa

Ketua Departemen Muslim Georgia dengan membandingkan pendekatan agama Islam dan Barat khususnya genosida mengatakan, dalam perspektif Islam jika seseorang membunuh satu orang tak berdosa, maka laksana telah membunuh seluruh manusia. Namun negara-negara Barat ironisnya memiliki pandangan lain dan mereka mempertimbangkan kewarganegaraan dan agama sang terbunuh. Karenanya Barat seantiasa memilih bungkam di hadapan pembunuhan umat muslim.

Ramin Egyedov dengan mengisyaratkan kondisi sukar umat muslim Myanmar menegaskan, ratusan ribu orang kabur ke Bangladesh dan dalam kondisi yang sukar. Sudah pasti negara fakir ini tidak akan mampu menyantuni para pengungsi ini. Karenanya lebih baik negara-negara Islam dalam rangka memberikan tempat tinggal para pengungsi dan demikian juga menyiapkan bahan makanan, membantu Bangladesh dari aspek Ekonomi.

Ketua Departemen Muslim Georgia mengatakan, pada hari-hari terakhir dipublikasikan sebuah berita tentang hal ini, yaitu sejumlah negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah memberikan bantuan jutaan dolar ke Amerika untuk membangun sejumlah kerugian yang muncul akibat badai di salah satu propinsi tersebut. Sementara itu Amerika memiliki anggaran yang besar dan kemungkinan tidak membutuhkan bantuan material tersebut. Sebagai gantinya, sejumlah negara ini dapat mengalokasikan bantuan tersebut ke Bangladesh guna pemulihan kondisi para pengungsi Rohingya.

http://iqna.ir/fa/news/3641559

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\