IQNA

Di Pertemuan Internasional Peran Dialog Interaktif dalam Memperkuat Keluarga:
8:50 - February 16, 2021
Berita ID: 3475062
TEHERAN (IQNA) - Para pembicara asing pada pertemuan internasional Peran Dialog Interaktif dalam Memperkuat Keluarga, dengan menekankan pentingnya peran keluarga dalam memperkuat nilai-nilai Islam, menyatakan front Perlawanan keteguhannya berhutang pada didikan para pejuangnya dalam pelukan keluarga dan ibu yang mengajari mereka rasa patriotisme dan martabat.

IQNA melaporkan, Pertemuan internasional "Peran Dialog Interaktif dalam Memperkuat Keluarga" pada hari Minggu, dihadiri oleh 25 tamu dari empat negara: Lebanon, Suriah, Irak dan Afganistan, menguraikan agenda nasional Dialog Keluarga Nasional dan Dialog Antar generasi sebagai proyek paling sukses di Iran di bidang keluarga.

Haleh Sulaiman Asad, Presiden Universitas Suriah Al-Ummah Al-Arabiya, mengucapkan selamat atas kemenangan Revolusi Islam ke-42 di Iran dan menekankan: Revolusi Islam memindahkan Iran dari kegelapan, ketidaktahuan dan kemunduran menuju budaya, kemajuan dan kemenangan.

Dengan pada peran esensial perempuan dalam menjaga front perlawanan, ia mengatakan: “Perempuan adalah simbol kemuliaan, kehormatan dan martabat kemanusiaan dan masyarakat. Perempuan adalah poros utama kehidupan dalam perang keras melawan musuh, karena perempuan berperang di beberapa bidang sekaligus.”

Pakar Suriah menyatakan: Ketika seluruh dunia bergerak melawan Suriah dan melancarkan perang dunia melawan negara kami, para pemuda Suriah, berkat fakta bahwa mereka tumbuh dalam keluarga yang baik dan sehat dengan prinsip dan nilai moral yang tinggi, membela tanah air dan pemimpinannya. Mereka pergi ke medan perang melawan penjajah.

Salem Deeb, seorang aktivis sosial Palestina, juga berbicara tentang kegiatan sosial dan kemasyarakatan di wilayah Palestina untuk mendukung pondasi keluarga Palestina.

Dia juga mengucapkan selamat kepada Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Imam Ali Khamenei dan rakyat Iran atas peringatan kemenangan Revolusi Islam  yang dipimpin oleh Imam Khomaini (qs),  dan berharap sukses dan permanen bagi Republik Islam Iran.

Dia menambahkan: Nabi (saw) juga bersabda, “Tidak ada suatu bangunan di dalam Islam yang lebih dicintai Allah swt dari perkawinan.”

Sima Samar dari Afganistan juga berbicara tentang perbaikan situasi perempuan Afganistan setelah jatuhnya rezim Taliban di Afganistan.

Ia menyebut pembentukan Kementerian Urusan Perempuan, serta isu kesetaraan gender dalam konstitusi baru Republik Islam Afganistan, yang diadopsi pada 4 Januari 2004, termasuk cara-cara untuk untuk mengakui hak-hak perempuan di Afganistan.

Dari Peran Penting Keluarga dalam Memperkuat Nilai-Nilai Islam hingga Meningkatkan Status Hak-Hak Perempuan di Afganistan

Samar menambahkan: Konstitusi baru Afganistan, yang dirancang dalam satu setengah dekade terakhir, mengakui hak-hak perempuan dan memberikan status kesetaraan kepada laki-laki dalam martabat dan hak asasi manusia.

Pakar Afganistan ini menyatakan: Undang-undang Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan di Afganistan juga disahkan oleh Negara Islam Afganistan untuk membela dan memulihkan martabat perempuan Afganistan setelah bertahun-tahun perang dan kesulitan. Kekerasan yang paling umum terhadap perempuan Afganistan adalah pemerkosaan dan kawin paksa. Pengisolasian paksa dan kecanduan membuat pemerintah Afganistan dan organisasi masyarakat sipil mencapai hasil yang baik dalam memerangi kekerasan ini.

Pertemuan khusus tentang "Peran Dialog Interaktif dalam Memperkuat Keluarga" dimulai hari Minggu, 14 Februari di Teheran, atas prakarsa Jihad Akademik divisi Al-Zahra yang bekerjsama dengan Pusat Internasional untuk Promosi Dialog Keluarga Presidensial, dan dihadiri oleh 25 tamu dari empat negara: Lebanon, Suriah , Irak dan Afganistan.

Dalam pertemuan dua hari ini, para tamu dan peserta akan berbagi pengalaman dan aktivitas masing-masing negara di bidang perempuan dan keluarga. (hry)

 

3954023

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
* captcha:
\