IQNA

2:41 - May 30, 2019
Berita ID: 3473150
CHINA (IQNA) - Penghancuran masjid di Distrik Xinjiang bersama dengan penangkapan massal adalah salah satu tindakan pemerintah China untuk menghilangkan identitas minoritas Muslim Uighur di wilayah tersebut.

Menurut laporan IQNA dilansir dari The Guardian, setelah Revolusi Kebudayaan China pada tahun 1966, muslim Uighur dan Kazakh berusaha untuk menyatukan kembali identitas agama dan budaya mereka. Mereka melanjutkan cara-cara ziarah tradisional dan mengadakan hari raya dan acara-acara keagamaan di masjid-masjid dan tempat-tempat ziarah. Mereka mulai membangun kembali masjid, dan mereka yang mampu, pergi ke Mekah untuk menunaikan haji. Dengan kemajuan komunitas lokal, mereka mulai membangun masjid yang lebih indah dan megah, dan masjid-masjid ini dipandang sebagai simbol hidup identitas dan kebanggaan komunitas Muslim Uighur, tetapi semua ini telah terbalik dalam beberapa tahun terakhir dengan perubahan kebijakan pemerintah China.

Pemerintah Bulldozer

Para pengamat menamakan tindakan-tindakan China terhadap Muslim di Xinjiang dengan Pemerintah Bulldozer, karena pemerintah China dengan perantara penghancuran bertubi-tubi, sedang mencari perubahan pemandangan dan tenunan komunitas di sana. Masjid Xinjiang bahkan masjid bersejarah, seperti Keriya Aitika, menjadi target penghancuran. Masjid kuno di kawasan selatan Hutan kembali pada tahun 1237 dan dibangun kembali secara besar-besaran pada tahun 1980 dan 1990.

Para wartawan yang melakukan perjalanan ke wilayah Qumul pada 2017 mendengar dari pejabat setempat bahwa 200 masjid dari 800 masjid dihancurkan dan berencana untuk menghancurkan 500 masjid lainnya pada 2018. Penduduk setempat mengatakan masjid lokal dihancurkan pada malam hari tanpa peringatan atau pemberitahuan.

Rincian Proyek Penghancuran Masjid di China

Tapi tidak hanya masjid yang menjadi target semata. Di daerah ini, seluruh kota dirancang ulang untuk memfasilitasi pemantauan orang. Di antara banyak karya bersejarah dan kuno kota Kashgar, dengan klaim upaya untuk mengembangkan pariwisata, telah dihancurkan dan dibangun kembali.

Kontrol dan Pengawasan Ketat atas Kota

Demikian juga budaya dan kehidupan masyarakat adalah target dari tindakan ini. Kegiatan keagamaan harian di Xinjiang dilarang. Orang-orang diganggu dengan memeriksa pos-pos pemeriksaan, alat deteksi wajah, dan inspeksi rumah, dengan dalih memerangi ekstremisme.

Pejabat China bersikeras bahwa semua pengikut agama yang berbeda di negara ini harus mengikuti hukum Partai Komunis China. Dalam hal ini, otoritas China tidak mengizinkan pemasangan simbol-simbol agama, seperti memasang bulan sabit dan membangun kubah di masjid-masjid, menutup gereja dan mengumpulkan Injil, dan melarang anak-anak Tibet menghadiri kuil Buddha dan memindahkan ke sekolah-sekolah negeri.

Rincian Proyek Penghancuran Masjid di China

Di Xinjiang, gejala ekstremis mencakup penolakan untuk menggunakan rokok dan alkohol, menonton TV dan menghubungi orang-orang di luar negeri. Mereka yang melakukan hal-hal ini dikirim ke salah satu kamp penahanan yang telah dibangun di seluruh wilayah selama beberapa tahun terakhir. Kamp-kamp ini rahasia dan tidak jelas, tetapi bukti kuat menunjukkan bahwa lebih dari satu juta Muslim Uighur dan Kazakh dipenjara di sana. Tahanan menjadi sasaran kekerasan, penyiksaan sistematis dan penganiayaan oleh pemerintah China. Banyak orang telah berbicara tentang penganiayaan yang telah mereka alami, meskipun mereka khawatir kemungkinan kerabat mereka akan ditangkap atau disiksa.

Rincian Proyek Penghancuran Masjid di China

Pemerintah China telah membuat banyak publisitas untuk meyakinkan masyarakat internasional bahwa kamp-kamp ini dirancang untuk menyediakan pelatihan kerja dan kejuruan dan sangat penting untuk membasmi ekstremisme. Banyak dari mereka yang ditangkap di kamp-kamp ini telah menghilang. Mereka yang ditangkap termasuk akademisi, aktivis budaya, seniman, dan penyair, dan mereka yang, seperti masjid yang dihancurkan, melambangkan identitas dan kebanggaan Muslim Uighur. Dan hal ini mengingatkan pembunuhan Stalin pada 1930-an.

Rincian Proyek Penghancuran Masjid di China

Diskriminasi Budaya dan Bahasa

Di sisi lain, diskriminasi budaya, agama, dan identitas dapat dilihat dalam pembatasan penggunaan bahasa Uighur, pelajaran bahasa China wajib, dan publikasi perkawinan antar etnis. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pemerintah China ini bukanlah respons yang ditargetkan terhadap kekerasan ekstremisme, tetapi perjuangan yang terkoordinasi untuk menghilangkan seluruh budaya masyarakat dan menargetkan orang-orang dalam ketakutan dan intimidasi. Pemerintah China telah menempatkan perjuangan Barat dengan ekstremisme dan terorisme sebagai dalih untuk tindakan represifnya.

Rincian Proyek Penghancuran Masjid di China

Negara-negara Muslim, yang banyak di antaranya bergantung pada China karena sabuk ekonomi Jalur Sutra, belum dapat mengutuk apa yang terjadi di Xinjiang, dan bahkan dalam beberapa kasus mereka mendukung langkah-langkah ini. Negara-negara Barat tidak memiliki kinerja yang cemerlang dalam hal ini.

 

http://iqna.ir/fa/news/3807958

Nama:
Email:
* Komentar Anda:
\